Ironi Politik Jokowi

February 9, 2015

Tak bisa dimungkiri, Jokowi adalah presiden paling lemah sejak digelarnya sistem pemilihan presiden secara langsung tahun 2004 hingga sekarang. Alasannya, pertama, tak ada satu pun partai yang bisa dikendalikan atau dikontrol secara langsung oleh Jokowi. Di PDI Perjuangan (PDIP), Jokowi bukan veto player. Megawatilah pemegang remote control partai, termasuk pemegang saham terbesar pemerintahan Jokowi. Kedua, Koalisi Indonesia Hebat (KIH), yang konon menopang proteksi politik Jokowi di parlemen, juga jauh untuk mencapai mayoritas sederhana. Koalisi yang dibangun Jokowi di parlemen terlalu kurus dan minimalis. Pada masa Jokowi inilah kali pertama Indonesia, sejak Reformasi 1998, mengalami divided government (pemerintahan yang terbelah karena cabang kekuasaan legislatif dikuasai oposisi). Ruang manuver politik Jokowi kurang leluasa sebab oposisi secara formal menguasai komposisi kekuatan di DPR. …Jokowi Ketum PDIP?

Advertisements

Jokowi dan Islam Indonesia

June 3, 2014

Arogansi PDIP terhadap Ummat Islam

Setiap menjelang perhelatan politik, seperti pemilihan presiden (pilpres), selalu saja mencuat isu-isu sektarian yang bersifat teologis terkait sisi keagamaan para kandidat. Di era sosial media saat ini, isu-isu ini bergerak begitu masif dan atraktif dalam beragam model dan modusnya. Isu-isunya tidak saja dikemas dalam bentuk rangkaian tulisan dan link berita, tapi juga gambar-gambar yang sarat dengan isu-isu sektarian.

Mencuatnya isu-isu keagamaan ini harus diletakkan secara proporsional dalam konteks Indonesia yang masyarakatnya mayoritas Muslim. Tentu, sesuatu yang wajar ketika masyarakat Muslim mendamba calon presiden (capres) dari seorang Muslim dengan kualitas kesalihan individu yang mumpuni. Idealnya, kesalihan individu ini diikuti pula dengan kesalihan sosialnya. Karena, pada konteks ini sesungguhnya pesan utama Islam; keseimbangan relasi vertikal dan horizontal (hablun minallah wa hablun minannas). …PDIP, bukan Jokowi-nya


PDIP dan Jokowi: Berpihak pada Wong Cilik atau Konglomerat?

March 25, 2014

Megawati dan Jokowi

Keberpihakan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terhadap masyarakat kecil atau wong cilik diragukan. Keraguan ini mencuat setelah adanya pertemuan antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan sejumlah pengusaha terkait dukungan untuk pemenangan calon presiden (capres) PDIP, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi dalam pemilu 2014.

“Masyarakat makin skeptis terhadap komitmen kerakyatan atau wong cilik PDIP. Dalam praktiknya, wong cilik lebih banyak menjadi jargon saja,” kata pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN), Hidayatullah Zaki Mubarak kepada wartawan di Jakarta, Rabu (19/3). …Yang Dikhawatirkan jika Jokowi Menang


Mungkin Inilah Beban Beratnya Bu Risma

February 20, 2014

Semoga Bu Risma Ingat Kisah Nabi Yunus

Walikota Surabaya Tri Rismaharini Menangis Di Metro TV

Ibu Risma tak dapat menahan rasa harunya, ketika ditanya Najwa Shihab, apakah mau berjanji untuk tidak meninggalkan rakyat Surabaya di acara Mata Najwa, Rabu, 12/02/2014 (Metro TV)

Bambang D.H mundur dari jabatannya sebagai wakil wali kota Surabaya pada Juni 2013, untuk ikut dalam Pilkada Jawa Timur (calon gubernur) Agustus 2013. Sejak itu jabatan wakil wali kota Surabaya lowong. Praktis Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, atau biasa disapa dengan Ibu/Bu Risma memimpin sendirian Surabaya sampai dengan 24 Januari 2014. Yakni, ketika, Ketua DPC PDIP Surabaya Wisnu Sakti Buana dilantik secara kontroversial menjadi wakil wali kota Surabaya, mendampingi Ibu Risma, tanpa melibatkan Ibu Risma sama sekali.

Sejatinya dengan adanya wakil wali kota beban Ibu Risma akan menjadi lebih ringan dalam mengatasi berbagai masalah di Surabaya, tetapi faktanya kehadiran Wisnu sebagai wakil wali kota Surabaya ini justru menjadi beban dan masalah besar bagi Ibu Risma. Yang praktis juga mengganggu kinerja pemerintahan Ibu Risma di Surabaya. …Mungkin Inilah Sebabnya


Drama Panjang Walikota Surabaya: Tri Rismaharini

February 20, 2014

Lewat Drama Tekanan Politik kepada Ibu Risma, Kita Bisa Menilai Mereka

Tri Risma Harini – Walikota Surabaya

Di balik gonjang-ganjing tekanan politik yang dihadapi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Ibu Risma) terungkap kebenaran sinyalemen yang selama ini beredar bahwa kepala daerah sering dimanfaatkan oleh partai politik penyokongnya untuk memenuhi kepentingan politik parpol tersebut di daerah yang bersangkutan. Sebagai balas jasa dari dukungan parpol, dan atau pengusaha hitam tertentu, kepala daerah tersebut akan memenuhi keinginan-keinginan mereka, baik itu keinginan yang berkaitan dengan kepentingan politiknya, maupun yang berkaitan dengan kepentingan bisnisnya.

Kepala daerah yang gila jabatan, yang juga memanfaatkan jabatannya itu demi kepentingan dan keuntungan pribadinya itu, pasti akan rela pula menjadi jongos dari parpol dan pengusaha hitam pendukungnya itu, sebagai imbalan jasa atau kompensasi dari diperolehnya jabatan tersebut. …Drama Panjang