Mengingat Sejarah: Partai Pemenang Pemilu 1955


Pemilu 1955

Hasil Pemilu 1955 selain mengukuhkan Partai Nahdlatul Ulama (NU) sebagai kekuatan politik baru di Indonesia, sekaligus mulai mendegradasi positioning dan peran politik bersifat strategis Partai Masyumi di bawah pimpinan Dr Mohd Natsir. Hasil Pemilu 1955 menjustifikasi Masyumi tak lagi dilihat dalam perspektif sebagai wadah satu-satunya representasi Islam politik di Indonesia.

Fakta politik lain hasil Pemilu 1955 adalah mulai terpinggirnya peran politik Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Sutan Sjahrir. PSI sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 hingga menjelang Pemilu 1955 adalah salah satu dari tiga kekuatan politik penting dan strategis di Indonesia selain PNI dan Masyumi. Sutan Sjahrir pernah menjadi perdana menteri pertama pascakemerdekaan. Dari sayap kaum Kristiani adalah Partai Katholik dan Parkindo.

Pemilu 1955 menunjukkan bahwa PSI Sutan Sjahrir kinerja dan performance politiknya tak sebagus Partai NU, dan bahkan PKI, partai yang belum pernah memiliki portofolio di kabinet sejak pengakuan kedaulatan RI dari Pemerintah Kerajaan Belanda Desember 1949 hingga Pemilu 1955. PKI mampu finish di posisi keempat dengan raihan 6,2 juta suara untuk pemilu parlemen dan 6,1 juta suara untuk pemilu badan Konstituante.

Bagaimana dengan PSI? Partai ini finish di posisi kedelapan dengan raihan suara untuk pemilu parlemen 753.191 suara dan pemilu badan Konstituante dengan 695.932 suara. Prestasi politik PSI ini di bawah Partai Katholik dan di atas Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI)–partai yang dikabarkan memiliki hubungan kultural dan historis dengan Jenderal AH Nasution dan kemudian berfusi ke PDI setelah Pemilu 1971 akibat kebijakan fusi rezim Orba Soeharto.

Herbert Feith (1999) dalam bukunya ‘Pemilihan Umum 1955 di Indonesia’ menyebutkan bahwa dari 4 partai pengumpul suara terbanyak di Pemilu 1955: PNI, Masyumi, Partai NU, dan PKI, ada 3 partai boleh disebut sebagai ‘Partai Jawa’ dan 1 partai lainnya bisa disebut sebagai ‘Partai Luar Jawa’. Dikotomi peta politik ini merujuk pada perolehan suara masing-masing keempat parpol itu dari perspektif teritori konstituennya.

Ketiga ‘Partai Jawa’ itu adalah PNI, Partai NU, dan PKI. Sedang ‘Partai Luar Jawa’ adalah Partai Masyumi, yang sebagian besar elitenya berasal dari Sumatera (seperti M Natsir, Burhanuddin Harahap, Hamka, dan lainnya), Kalimantan (KH Hasan Basri), dan Sulawesi.

Dalam buku tentang Pemilu 1955 oleh Herbert Feith disebutkan bahwa di distrik pemilihan Jatim, pemenang Pemilu 1955 adalah Partai NU dengan 3,3 juta suara untuk pemilu parlemen dan 3,2 juta suara untuk pemilu badan Konstituante. Posisi kedua ditempati PNI dengan 2,2 juta suara untuk pemilu parlemen dan 2,3 juta suara untuk pemilu badan Konstituante. Ranking ketiga diisi PKI dengan raihan 2,2 juta suara untuk pemilu parlemen dan 2,2 juta suara untuk pemilu badan Konstituante. Tempat keempat oleh Partai Masyumi dengan raihan 1,1 juta suara untuk pemilu parlemen dan 1,1 juta suara untuk pemilu badan Konstituante.

Bagaimana dengan distrik pemilihan di provinsi lainnya di Pulau Jawa? Herbert Feith menyebutkan bahwa pemenang Pemilu 1955 di Jateng adalah PNI dengan 3,0 juta suara untuk pemilu parlemen dan 3,1 juta suara untuk pemilu badan Konstituante. Posisi kedua ditempati PKI dengan 2,3 juta suara untuk pemilu parlemen dan 2,3 juta suara untuk pemilu badan Konstituante. Tempat ketiga oleh Partai NU dengan 1,7 juta suara untuk pemilu parlemen dan 1,8 juta suara untuk pemilu badan Konstituante. Partai Masyumi berada di posisi keempat di Jateng dengan 902.387 suara untuk pemilu parlemen dan 892.556 suara untuk pemilu badan Konstituante.

Hanya di Jabar, Partai Masyumi menang vis a vis 3 parpol lainnya di Pemilu 1955. Di ranah Sunda ini, Masyumi yang memiliki tokoh terkenal Isa Anshari mengais 1,8 juta suara untuk pemilu parlemen dan 1,7 juta suara untuk pemilu badan Konstituante. Posisi kedua ditempati PNI dengan 1,5 juta suara untuk pemilu parlemen dan 1,5 juta suara untuk pemilu badan Konstituante. PKI berada di posisi ketiga dengan 755.643 suara untuk pemilu parlemen dan 827.858 suara untuk pemilu badan Konstituante. Partai NU ranking keempat dengan 673.466 suara untuk pemilu parlemen dan 692.755 suara untuk pemilu badan Konstituante.

Pun demikian di distrik pemilihan DKI Jakarta. Partai Masyumi menang dengan 200.460 suara untuk pemilu parlemen dan 180.488 untuk pemilu badan Konstituante. PNI di posisi kedua dengan 152.031 suara untuk pemilu parlemen dan 173.580 suara untuk pemilu badan Konstituante. Tempat ketiga oleh Partai NU dengan 120.667 suara untuk pemilu parlemen dan 124.923 suara untuk pemilu badan Konstituante. Tempat keempat diisi PKI dengan 96.363 suara untuk pemilu parlemen dan 89.512 suara untuk pemilu badan Konstituante.

Mayoritas distrik pemilihan di luar Pulau Jawa pada Pemilu 1955 dimenangkan Partai Masyumi. Partai pimpinan M Natsir ini menang di distrik pemilihan Sumatera Selatan, Sumatera Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur Masyumi menang tipis vis a vis PNI, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Maluku.

Di Kalimantan Selatan, Masyumi kalah dibanding Partai NU. Di distrik pemilihan NTT pemenang Pemilu 1955 adalah Partai Katholik dan distrik NTB dimenangkan PNI, Masyumi finish di ranking kedua, kemudian PSI, dan Partai NU.

Sumber: http://m.beritajatim.com/menuju_pemilu_2014/188367/pni,_nu,_dan_pki_itu_%27partai_jawa%27,_masyumi_partai_%27luar_jawa%27.html#.U7bDukDm4tU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: