Selingkuh: Kawin Silang Louhan Lokal dengan Red Devil #1


Awalnya saya tertarik memelihara ikan louhan saat mampir ke lapak jualan ikan Cak Rin di belakang pasar Soponyono. Itu sekitar dua tahun yang lalu. Ada ikan louhan yang dijual cuma seharga dua ribuan per ekor. Wow, murah sekali. Karena setahu saya harga ikan louhan bisa puluhan ribu, bahkan ratusan ribu per ekornya. Karena penasaran, akhirnya saya beli beberapa ekor. Saya pilih yang punya bakat nonong dan dadanya berwarna kemerah-merahan.

Karena masih penasaran, saya lanjutkan perburuan louhan “murah” ke pusat penjualan ikan hias di daerah Gunung Sari, barat terminal Joyoboyo. Sabtu siang sampai Minggu dipenuhi pengunjung dan penjual. Ternyata benar info dari Cak Rin. Harga kulakan ikan louhan lokal (Trenggalek) cuma 20.000 per kantong. Isinya 8 ekor ikan louhan ukuran tanggung (dua kali lebih besar dari yang dijual Cak Rin). Pulanglah saya dengan sekantong plastik ikan louhan. Beberapa diantaranya ada yang sudah cukup menonjol nonongnya, dan sudah memerah bagian dadanya.

Satu tahun saya pelihara ikan louhan itu di kolam ukuran tiga kali 0.3 meter di teras depan rumah. Kalau tidak salah waktu itu total ada belasan louhan di dalamnya. Yang paling asyik adalah saat memberinya pakan cacing sutera. Meski cacing masih di tangan, ikan-ikan tidak segan untuk menyerbu tanpa takut. Bahkan dibelai-belai kepalanya pun juga tidak lari.

Sampai akhirnya musibah itu datang. Tanpa sebab yang jelas, satu per satu ikan louhan saya mati. Termasuk yang paling besar (seukuran telapak tangan manusia dewasa). Dugaan saya karena ikan ini termasuk jenis yang suka bertarung dengan sesamanya. Apalagi jika pas musim kawin. Karena pernah salah satu ikan sudah bertelur. Sayangnya tidak menetas. Bahkan karena tarung, pernah ada yang matanya cedera parah, selain sisik yang lepas, maupun ekor/ sirip yang buntung. Hingga tersisa lah satu ekor ikan louhan ukuran tanggung (dua jari orang dewasa).

Kemudian saya putuskan mengganti ikan louhan dengan ikan red devil. Tampilan warnanya yang kuning jauh lebih terang dari pada ikan louhan yang hijau gelap. Harganya tidak begitu beda jauh. Konon juga bisa nonong sebagaimana ikan louhan. Belilah saya beberapa ikan red devil.

Dalam perjalanannya ternyata hampir sama dengan louhan. Red devil juga hobi tarung. Singkat cerita, tersisalah satu ekor ikan louhan dan sepasang red devil. Saya tahu sepasang karena dua ekor ikan ini kesana kemari selalu berduaan, saling melindungi, saling menjaga. Kelihatan mesra, tidak saling menyakiti.

Hingga suatu ketika kolam saya terindikasi bocor, dan juga dasarnya sudah sedemikian kotor karena lumut. Akhirnya saya putuskan untuk dilapisi semen lagi dasar dan dindingnya. Karena itu ikan-ikan saya pindahkan ke kolam di halaman belakang rumah. Waktu itu sudah ada beberapa ikan nila merah di dalam kolam seukuran dua kali satu meteran tersebut.

Karena malas nangkap ikan di kolam belakang, untuk saya pindah kembali ke kolam depan, maka saya gantikan penghuninya dengan ikan hias jenis kecil-kecil semacam ikan emas, ikan black molly dan beberapa ikan nila anakan. Sementara itu terus saya amati tingkah laku si louhan dan si red devil di kolam belakang. Ada yang aneh sepertinya. Sepasang red devil menguasai rumah-rumahan dari genting. Sedangkan si louhan beberapa kali berusaha masuk ke dalamnya dan keluar dengan segera…

[bersambung] Bagian Kedua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: