Inilah Alasan Mengapa LHI Divonis 16 Tahun Penjara


A. Menerima Suap Rp. 1,3 Milyar

Dengan mengatas namakan Terdakwa LHI, Fathanah telah berhasil meminta uang dari Maria sejumlah Rp 1,3 milyar. Uang ini telah diterima oleh Fathanah dan tidak pernah sampai kepada Terdakwa LHI. Jadi sebetulnya bukan sebuah kerja sama namun lebih tepatnya adalah sebuah tipu daya Fathanah terhadap Maria Elizabeth Liman. Jika Penuntut Umum mempercayainya sebagai kerjasama maka berarti Penuntut Umum telah berhasil diperdayai juga oleh Fathanah sebagaimana keberhasilannnya memperdayai Maria Elizabeth Liman. Perihal dugaan adanya janji juga tidak terbukti. Yang terbukti adalah sebuah upaya tipu daya dari Fathanah terhadap Terdakwa LHI akan adanya janji pemberian Rp 40 milyar dari Maria untuk Terdakwa LHI. Karena ternyata baik Maria maupun Elda tidak pernah menjanjikan demikian. Jadi bagaimana mungkin Terdakwa LHI bisa dituduh telah menerima janji jika janji tersebut tidak pernah ada? Sayang permintaan kami untuk mengkonfrontir antara saksi Maria, Elda dan Fathanah, perihal janji ini tidak dikabulkan oleh Majelis. Semoga penolakan oleh Majelis ini adalah karena Majelis memang sudah yakin bahwa janji tersebut memang hanya karangannya Fathanah semata untuk memperdayai Terdakwa LHI.

(1) Tahap Pertama, Rp 300 juta. Bahwa sebelum berangkat ke Medan saksi Ahmad Fathanah melalui Elda Devianne Adiningrat minta uang kepada Maria Elizabeth Liman, sebesar Rp. 300.000.000.- dimana menurut keterangan Maria Elizabeth Liman sebelum berangkat ke Medan dirinya ditelepon oleh Elda Devianne Adiningrat yang meminta fee sebagai penggantian uang bensin, tetapi menurut saksi Elda Devianne Adiningrat, uang Rp. 300.000.000.- untuk Terdakwa LHI. Uang sejumlah Rp. 300 juta itu baru diambil oleh saksi Jerry Roger Kumontoy pada tanggal 13 Januari 2013 dari kantor PT. Indoguna Utama kemudian uang tersebut tidak diserahkan kepada Ahmad Fathanah melainkan diserahkan kepada Rony sebagai penyertaan Ahmad Fathanah dalam proyek PLTS. Dengan demikian terkait dengan uang sebesar Rp. 300 juta tidak terbantahkan bahwa uang tersebut bukan untuk kepentingan Terdakwa LHI. Terdakwa LHI tidak pernah meminta, menyuruh dan tidak mengetahui bahwa Ahmad Fathanah meminta uang kepada Maria Elizabeth Liman. Oleh karena itu keterangan Elda Devianne Adiningrat yang mengatakan Ahmad Fathanah meminta uang sebesar Rp. 300 juta untuk terdakwa, harus dimaknai bahwa sebenarnya Ahmad Fathanah hanya memanfaatkan dan mencatut nama terdakwa saja. Mengenai fakta bahwa Ahmad Fathanah mencatut nama Terdakwa LHI bersesuaian dengan saksi Elda Devianne Adiningrat.

(2) Tahap Kedua, Rp 1 milyar. Bahwa setelah Ahmad Fathanah melalui Terdakwa LHI dapat mempertemukan Maria Elizabeth Liman dengan menteri Pertanian SUSWONO, Ahmad Fathanah meminta bantuan dana kepada Maria Elizabeth Liman dengan alasan untuk membuat seminar, serta bantuan safari dakwah PKS dan dana kemanusiaan di Papua tetapi tidak menyebut berapa nominalnya dan kemudian melalui telepon Maria Elizabeth Liman memberitahu Ahmad Fathanah bahwa akan diberikan bantuan dana sebesar Rp. 1 milyar. Ahmad Fathanah setelah menerima uang menuju Hotel Le Meredien dan kemudian menghubungi saksi Felix Radjali untuk menerima pembayaran mobil Mercedes Benz yang dari PT William Mobil dan juga saksi Ilham Ramli agar datang ke hotel tersebut untuk menerima pembayaran furniture yang dibeli dari X’tra Design senilai Rp. 485 juta. Betul kedua orang saksi Felix Radjali dari PT William Mobil dan Ilham Ramli sore tanggal 29 Januari 2013 datang ke Hotel Le Meredien dengan membawa dokumen dan tanda terima uang tetapi tidak bertemu karena Ahmad Fathanah sore itu ditangkap KPK.

Seandainya –quad non- sore atau malam hari tanggal 29 Januari 2013, KPK tidak datang menangkap Ahmad Fathanah di Hotel Le Meredien Jakarta, maka dapat dipastikan bahwa saksi Ilham Ramli dan Felix Radjali akan menerima uang dari Ahmad Fathanah masing-masing untuk Ilham Ramli sebagai pembayaran furniture dan Felix Radjali untuk pembelian mobil Mercedez. Bahwa dari uang tersebut Ahmad Fathanah mengambil Rp 10 juta dikantongi untuk keperluan sendiri dan Rp 10 juta diberikan kepada Maharani Suciono.

B. Seputar Daging Busuk di Mobil Fathanah

Manipulasi oleh sdr JPU juga terjadi sebagaimana terbaca baik dalam BAP, Surat Dakwaan bahkan Surat Tuntutan tentang percakapan telpon antara saksi Fathanah dengan supirnya Sahrudin alias Allu, versi sdr JPU sebgaimana terbaca dalam surat dakwaan dan Tuntutan dikatakan sbb :”Alun jangan jauh-jauh dari mobil ada daging busuk Luthfi”, padahal percakapan sebenarnya sebagaimana diperdengarkan dalam sidang atas permintaan Penasihat hukum jelas terdengar : “Alu lu jangan jauh-jauh dari mobil ada daging busuk” jelas terdengar tidak nama Luthfi disebut-sebut dalam percakapan tersebut. Bukankah fakta ini membuktikan dengan jelas tindakan JPU yang manipulatif ?

C. Seputar Fee Rp. 10.000/kg Daging Impor

Bahwa telah terjadi percakapan dalam bahasa Arab antara Ahmad Fathanah dengan Terdakwa, tentang fee yang Rp.5000,- (lima Rupiah) per kg dikalikan 8.000 (delapan ribu) ton, dengan tambahan ungkapan dari Terdakwa “sekalian 10.000 (sepuluh ribu) ton saja biar menjadi 50 milyar, yang menurut keterangan Terdakwa LHI di persidangan, ungkapan penambahan menjadi 10.000 ton itu semata-mata agar Ahmad Fathanah berhenti bicara perhitungan fee dan semacamnya. Bahwa setelah percakapan antara Terdakwa dengan Ahmad Fathonah tersebut Terdakwa memanggil saksi Ahmad Rozi, konsultan hukum Elda Adiningrat, agar jangan bicara soal fee lagi kalau berkomunikasi dengan Ahmad Fathanah, dan tidak perlu percaya dari apa yang diomongkan Ahmad Fathanah dan atas pesan tersebut diakui oleh saksi Ahmad Rozi dalam kesaksiannya di persidangan.

Menurut keterangan Menteri Pertanian Suswono, Syukur Irwantoro (Dirjen Peternakan), Soewarso dan Baran dalam persidangan tidak pernah ada lobby dari Terdakwa LHI dalam upaya untuk menambah kota impor daging sapi. Fathonah pernah datang ke ruang Syukur Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian dan membawa berkas-berkas permohonan, dengan menyebut nama Terdakwa LHI, tetapi Syukur tidak pernah mengkonfirmasi kepada Terdakwa LHI, disamping Syukur tidak kenal dengan Terdakwa LHI. Bahwa atas pernyampaian Ahmad Fathanah, Syukur Irwantoro (Dirjen Peternakan) mengatakan, agar sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. Disamping itu Syukur masih teringat pesan Menteri Pertanian, Suswono kepada jajarannya dalam setiap rapat koordinasi antara eselon dua dan eselon satu, “kalau ada dari orang yang mengaku-ngaku dari partai politik termasuk dari PKS mau berbisnis (menjadi rekanan ) agar diperlakukan yang sama dengan rekanan yang lain, dan harus sesuai dengan peraturan yang ada”, dan oleh karena itu kedatangan Ahmad Fathanah tidak menjadi atensi saksi Syukur selaku Dirjen Peternakan.

D. Kedekatan Fathanah – LHI

Bahwa uraian kedekatan Terdakwa LHI dengan Ahmad Fathanah sebagaimana digambarkan oleh Sdr. Jaksa Penuntut Umum adalah sama sekali tidak benar dan amat mengada-ada hanya demi memenuhi target dakwaannya saja. Terdakwa LHI tidak pernah menjadi penghubung dalam mengusahakan perusahaan-perusahaan untuk memperoleh proyek pemerintah. Demikian juga proyek-proyek di Kementerian Pertanian sebagaimana dituduhkan Sdr. Jaksa Penuntut Umum. Bahwa Terdakwa LHI memang sesekali menjalin komunikasi dengan Ahmad Fathanah, hal ini tidak lain adalah semata-mata karena adanya hubungan hutang piutang. Ahmad Fathanah memiliki kewajiban hutang kepada Terdakwa yang masih belum dilunasi sebesar Rp. 2.975.000.000,00 (dua milyar sembilan ratus tujuh puluh lima juta) pada tahun 2005. Sebagai bukti bahwa hubungan antara Terdakwa LHI dengan Ahmad Fathanah tidak sebagaimana yang digambarkan oleh Sdr. Jaksa Penuntut Umum, Terdakwa LHI pernah mengadukan tindak pidana terhadap Ahmad Fathanah karena telah memalsu tanda tangan Terdakwa LHI. Selain itu, Terdakwa LHI juga pernah menggugat wanprestasi Ahmad Fathanah karena tidak membayar hutang. Ini semua membuktikan bahwa ada ketidakpercayaan (distrust) dari Terdakwa LHI kepada Fathanah yang tidak dapat mendukung adanya duguaan bahwa mereka dapat bekerja sama.

Bahwa Terdakwa LHI tetap menjalin komunikasi dengan Ahmad Fathonah karena pertimbangan ;
1. Pernah dipesan oleh orang tua Ahmad Fathanah agar menjaga anaknya tersebut,
2. Dengan tetap berkomunikasi, Terdakwa mengetahui apakah Ahmad Fathanah punya uang atau tidak, jika punya maka akan ditagih oleh Terdakwa.

E. Tindakan Pencucian Uang

Tentang dakwaan TPPU, dari keseluruhan transaksi, pembelanjaan dan penempatan uang yang didakwakan hampir semuanya (90%) telah terbukti bukan dari hasil kejahatan. Beberapa transaksi yang tidak berhasil kami klarifikasi semata karena ketidak-hadiran saksi, dan kami sudah tidak mempunyai waktu lagi untuk menghadirkannnya. Namun yang merupakan pembelaan kami perihal TPPU ini adalah fakta bahwa Terdakwa LHI adalah pengusaha sukses sebelum menjadi anggota DPR. Terdakwa LHI adalah pemegang saham mayoritas (praktis pemiliknya) PT. Sirat Inti Buana. Pegawai perusahaan ini, DELLY AGUSTIAN UTAMA, memberikan kesaksian di persidangan ini bahwa omzet perusahaan sejak tahun 2003 adalah diatas Rp 35 milyar dalam setahun. Di tahun 2005 bahkan mencapai omzet Rp 72 milyar, di tahun 2005 Rp 67 milyar. Hal ini membuktikan bahwa PT . Sirat Inti Buana (SIB) adalah bukan perusahaan fiktif sebagaimana yang hendak dikesankan oleh sdr. Penuntut Umum, bahkan pembukuan perusahaan menunjukkan bahwa PT SIB adalah perusahaan sehat. Yang jelas transaksi pembelian 5 bidang tanah di Bogor seharga Rp 3,5 milyar, yang oleh penuntut umum dituduhkan sebagai transaksi yang mencurigakan, telah berhasil kami buktikan bahwa sumber dananya adalah dari PT SIB, milik Terdakwa LHI.

Selain dari pada pengusaha sukses, Terdakwa LHI juga dikenal sebagai Ustad yang sukses. Murid-muridnya Terdakwa LHI juga banyak yang sukses secara ekonomis. Contohnya Oke Setiadi, murid Terdakwa LHI yang sukses ini adalah pengusaha Ban Mobil. Dengan kesuksesannnya itu Oke Setiadi, di persidangan ini bersaksi, bahwa dia menginfakkan Rp 1 Milyar kepada Terdakwa LHI yang oleh Terdakwa LHI dipergunakan untuk membeli mobil VW Caravelle untuk kepentingan partai yang dipimpinnnya, yaitu PKS. Sdr Penuntut Umum menanyakan bukti (tertulis) ? Kami heran, mana ada orang bershadaqoh dan berinfaq minta tanda bukti. Demikian juga ketika menantunya titip uang untuk dibelikan rumah, ya wajarlah jika seorang menantu percaya kepada mertua sehingga tidak memerlukan tanda bukti.

Bendahara umum PKS, Ustad Mahfudz dan presiden partai Anis Mata yang bersaksi di pengadilan memberikan keterangan bahwa adalah wajar bila aset-aset PKS terutama aset bergerak seperti mobil, untuk alasan administratif diatas namakan kader partai, karena biasanya memang donatur memberikannya secara pribadi namun pribadi tersebut memberlakukannya sebagai amanah untuk partai. Dan begitulah tradisi di PKS, sehingga mobil VW Caravelle yang secara formil adalah tercatat milik Terdakwa LHI, tetapi sesungguhnya secara materiil adalah asetnya PKS. Bila sdr Penuntut Umum juga berpendapat bahwa dalam hukum Acara Pidana yang dicari adalah kebenaran materiil maka dengan pendekatan yang sama mobil VW Caravelle juga harus diartikan, secara materiil, adalah sebagai miliknya partai bukan milik pribadi Terdakwa LHI.

Oleh karena itu, jika sdr Penuntut Umum tertarik untuk menggali profilnya Terdakwa LHI, jangan hanya diungkap profilnya sebagai anggota DPR, namun juga profilnya sebagai pengusaha sukses dan profilnya sebagai Ustad yang dicintai murid-muridnya. Hal ini perlu kami sampaikan karena adanya pendapat Penuntut Umum bahwa transaksi dan aset-aset yang dikuasai Terdakwa LHI tidak sesuai dengan profilnya. Apalagi selalu mengungkap bahwa Rekening tertentu atau aset tertentu belum dilaporkan dalam LHKPN. Jika sdr Penuntut Umum konsekuen dengan UU No 28/1999 yang dijadikan rujukan dalam dakwaannya tentang TIPIKOR, maka Sdr Penuntut Umum harus memahami bahwa kewajiban mencatatkan harta kekayaan pejabat itu adalah bukan hanya sebelum menjabat, namun juga selama menjabat (Pasal 5 ayat 3 UU No 28/1999). Sehingga dimungkinkan adanya harta kekayaan yang belum dicatatkan ketika harta tersebut diperoleh selama masa jabatannya. Kealpaan pejabat mencatatkan harta kekayaan hanyalah diberikan sanksi administatif (Pasal 20 ayat 1, UU No 28/1999 ).

F. Transfer-transfer Uang di Rekening

1. Mengenai Transferan tanggal 6 September 2006 sebesar Rp.69.000.000,- (enam puluh sembilan juta rupiah) dari Azhar ML. Berdasarkan keterangan yang disampaikan M. Azhar Muslim dipersidangan pada hari Senin tanggal 18 November 2013 sebagai saksi dibawah sumpah menerangkan bahwa uang yang ia transfer kepada Terdakwa LHI adalah untuk biaya umroh dirinya dan 5 orang temannya yang lain.

2. Bahwa adapun pihak-pihak lain yang melakukan transfer ke Rekening Terdakwa LHI, seperti Emma Siamulati pada tanggal 10 Januari 2005 sebesar Rp. 351.505.000,- (tiga ratus lima puluh satu juta lima ratus lima ribu rupiah) adalah transaksi biasa, pinjam meminjam antara Terdakwa dengan Sdri. Emma terkait bisnis/modal usaha. Namun yang bersangkutan tidak bisa dihadirkan sebagai Saksi a de Charge kepada Terdakwa LHI karena sedang bertugas diluar negeri.

3. Tanggal 19 Desember 2007 sebesar Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dari Ida Agustiana. Berdasarkan keterangan yang disampaikan Ida Agustiana dipersidangan pada hari Senin tanggal 28 Oktober 2013 sebagai saksi dibawah sumpah menerangkan bahwa saksi pernah mentransfer uang sebesar Rp.50.000.000,- pada bulan Desember 2007 (lupa tanggalnya) ke rekening BCA milik Terdakwa LHI. Pengiriman uang tersebut untuk pengembalian hutang mendiang suami saksi kepada Terdakwa LHI.

4. Transferan tanggal 26 Desember 2007 sebesar Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) sebagai cicilan pokok Mutu Garansi Prima. Berdasarkan keterangan yang disampaikan Rifandi dipersidangan pada hari Senin tanggal 28 Oktober 2013 sebagai saksi dibawah sumpah menerangkan bahwa Mutu Garansi Prima adalah perusahaan milik Saksi pernah mentransfer uang sebesar Rp.100.000.000,- pada bulan Desember 2007 (lupa tanggalnya) ke rekening BCA milik Terdakwa LHI sebagaimana dakwaan, namun uang tersebut untuk pengembalian hutang saksi kepada Terdakwa LHI; Bahwa Saksi RIFANDI pada bulan Desember tahun 2007 mentransfer uang sejumlah Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) kepada Terdakwa LHI sebagai kewajiban Saksi atas hutang yang pernah diberikan oleh Terdakwa LHI. Uang itu bersumber dari perusahaan Saksi sebagaimana awal peminjaman untuk kebutuhan perusahaan;

5. Berdasarkan keterangan yang disampaikan Ahmad Maulana dipersidangan pada hari Senin tanggl 28 Oktober 2013 sebagai saksi dibawah sumpah menerangkan bahwa sumber dana untuk pembelian satu unit mobil Pajero Sport Exceed AT 4×4 tahun 2009 warna hitam dari Saksi Ahmad Maulana; Bahwa Saksi Ahmad Maulana secara sadar membeli dan melakukan pembayaran mobil untuk Terdakwa LHI tidak lebih hanya sebagai wujud amal/shodaqoh seorang murid kepada gurunya. Saksi menerangkan bahwa Terdakwa LHI adalah guru ngajinya yang selayaknya dibantu dengan penuh ikhlas dan semata-mata mengharapkan keberkahan dan pahala dari Allah semata.

6. Perihal dakwaan pada tanggal 24 Agustus 2012 bertempat di Kamar Apartemen Sudirman Jakarta Selatan milik YUDI, Terdakwa LHI menerima pemberian uang tunai senilai 2 milyar yang awalnya Terdakwa LHI menelepon Yudi Setiawan meminta bantuan sejumlah uang untuk kepentingan paket lebaran. Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh Ahmad Fathanah sebagai saksi dibawah sumpah dalam persidangan pada hari Kamis tanggal 31 Oktober 2013 menerangkan bahwa uang 2 milyar dari Yudi Setiawan memang benar diterima oleh Ahmad Fatanah di Apartemen Sudirman namun uang tersebut tidak pernah diberikan kepada Terdakwa LHI. Berdasarkan keterangan Terdakwa LHIdi persidangan pada hari Kamis tanggal 21 November 2013 menerangkan bahwa Terdakwa LHI TIDAK pernah menerima uang 2 milyar yang dimaksudkan oleh Yudi Setiawan tersebut. Bahkan Terdakwa LHI tidak pernah tahu dan belum pernah ke Apartemen Sudirman.

7. Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh Terdakwa LHI dalam persidangan pada hari Kamis tanggal 21 November 2013 menerangkan bahwa terhadap seluruh uang transferan dan pemberian sebagaimana dimaksud diatas yang sumbernya dari Saksi Ahmad Fathanah merupakan pembayaran hutang-hutang Ahmad Fathanah kepada Terdakwa LHI sebesar Rp. 2,9 milyar dan pembayaran dicicil sebagaimana disebutkan dalam dakwaan diatas. Adapun untuk pembayaran hutang sebagaimana sebesar Rp.750 juta tidak benar seingat Terdakwa LHI hanya sekitar Rp.150 juta juta atau Rp.250 juta. Bahwa pembayaran hutang-hutang Sdr. Ahmad Fathanah kepada Terdakwa LHI selalu diberikan setiap Sdr. Ahmad Fathanah ada uang dan sering pula uang yang sudah diberikan oleh Sdr. Ahmad Fathanah kepada Terdakwa LHI dipinjam lagi oleh Ahmad Fathanah. Begitu seterusnya, sehingga utang Fathanah kepada Terdakwa LHI tidak pernah selesai pembayarannya

8. Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh Syamilahmad Bin Mader sebagai saksi dibawah sumpah dalam persidangan pada hari Kamis tanggal 21November 2013 menerangkan bahwa saksi adalah calon mantu Terdakwa LHI yang sudah mengenal Terdakwa LHI sejak tahun 2006. Sebagai calon mantu, Terdakwa LHI memberikan syarat kepada Saksi apabila kelak menjadi suami dari putri Terdakwa LHI, yaitu Saksi harus tinggal di Indonesia dan tidak boleh tinggal di luar negeri. Oleh karena itu, sebagai bentuk komitmen Saksi untuk menjamin syartat-syarat itu, maka Saksi memberikan uang kepada Terdakwa LHI untuk dibelikan rumah dan mobil di Indonesia dan untuk keperluan pernikahannya. Uang yang sudah diberikan kepada Terdakwa LHI seluruhnya berjumlah 400,000 U$D yang diberikan secara bertahap di beberapa tempat dan kesempatan bertemu dengan Terdakwa HI antara tahun 2009 – 2013, diantaranya di Jakarta, Moscow dan Istambul. Penyerahan-penyerahan uang tersebut, dilakukan oleh kedua orang tuanya kepada Terdakwa LHI. Saksi juga kemudian mengetahui bahwa uang tersebut telah dibelikan Mobil Toyota Alphard dan Perumahan di Kebagusan namun kepemilikannya belum menggunakan nama Saksi, meskipun Terdakwa LHI pernah meminta dokumen-dokumen untuk keperluan balik nama.

9. Bahwa, terhadap pembelian 1 unit mobil Mitsubishi Grandis pembuatan tahun 2005 dibeli oleh Terdakwa LHI pada tahun 2012 dari pemilik pertama yang bernama Herma Yudi Irwanto seharga Rp.150.000.000,- . Adapun, sumber uang yang digunakan untuk membeli mobil tersebut adalah berasal dari penghasilan Terdakwa LHI ketika menjadi pembicara diluar negeri. Dimana Terdakwa LHI sering ke luar negeri menjadi pembicara dan mendapat honor sebagai pembicara sebagaimana keterangan Saksi berikut ini: Saksi Deden, menerangkan dibawah sumpah dalam persidangan hari Kamis, 21 November 2013 bahwa saksi berdomisili di Belanda dan pernah mengundang Terdakwa LHI sebagai pembicara di Belanda dalam acara pengajian bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Belanda. Dalam setiap kali Terdakwa LHI mengisi acara pengajian tersebut, Saksi selaku pelaksana acara tersebut memberikan honor sebesar 10,000 euro atau setara dengan Rp.150.000.000,- sebagai pembicara kepada Terdakwa LHI. Saksi sudah tiga kali menghadirkan Terdakwa LHI sebagai pembicara di Belanda yaitu tahun 2009, 2010 dan 2012.

>> Dan selengkapnya silahkan dibaca di link berikut ini. Mohon maaf dan terima kasih🙂 <<

Tegakkan Keadilan!!!

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/12/05/43115/inilah-isi-lengkap-nota-pembelaan-tim-penasihat-hukum-lhi

Artikel terkait:
http://www.pkspiyungan.org/2013/11/fathanah-menangis-ditanya-luthfi-lalu.html
http://www.pkspiyungan.org/2013/05/kesaksian-af-di-persidangan-soal-dana.html
http://www.pkspiyungan.org/2013/05/fathanah-duit-rp-1-miliar-bukan-buat.html
http://www.pkspiyungan.org/2013/11/fakta-persidangan-lhi-tak-terbukti.html
http://news.okezone.com/read/2013/11/29/339/904567/tuntut-lhi-18-tahun-penjara-jaksa-tak-mengindahkan-fakta-persidangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: