Penjelasan Larangan Duduk Mengangkang di Kota Lhokseumawe


Berikut isi surat edaran bernomor 002/2013 yang terkait dengan larangan tersebut:

Duek Phang

Duek Phang

Untuk menegakkan syariat Islam secara kaffah, menjaga nilai-nilai budaya dan adat istiadat masyarakat aceh dalam pergaulan sehari-hari, serta sebagai wujud upaya Pemerintah Kota Lhokseumawe mencegah maksiat secara terbuka, maka dengan ini Pemerintah menghimbau kepada semua masyarakat di wilayah Kota Lhokseumawe, agar:

1. Perempuan dewasa yang dibonceng dengan sepeda motor oleh laki-laki muhrim, bukan muhrim, suami, maupun sesama perempuan, agar tidak duduk secara mengangkang (duek phang), kecuali dengan kondisi terpaksa (darurat).

2. Di atas kendaraan baik sepada motor, mobil dan/atau kendaraan lainnya, dilarang bersikap tidak sopan seperti berpelukan, berpegang-pegangan dan/atau cara-cara lain yang melanggar syariat Islam, budaya dan adat istiadat masyarakat Aceh.

3. Bagi laki-laki maupun perempuan agar tidak melintasi tempat-tempat umum dengan memakai busana yang tidak menutup aurat, busana ketat dan hal-hal lain yang melanggar syariat islam dan tata kesopanan dalam berpakaian.

4. Kepada seluruh keuchik, imum mukim, camat, pimpinan instansi pemerintah atau lembaga swadaya, agar dapat menyampaikan seruan ini kepada seluruh bawahannya serta kepada semua lapisan masyarakat.

Pengecualian

Dikatakan, terkait duduk mengangkang ini ada pengecualian, yaitu baru dapat dilakukan apabila mendesak dan terpaksa seperti melakukan perjalanan jauh, membawa anak-anak dan memboncengi orang sakit.

Selain itu, seruan ini juga disosialisasikan selama tiga bulan dan dilakukan pengawasan dan razia penertiban yang dilakukan bersama Wilayatul Hisbah (WH). “Setelah tahapan sosialisasi, ada kemungkinan kita akan mengeluarkan peraturan Walikota (Perwal) yang mengatur persoalan ini,” ungkapnya.

Usai penandatanganan, Walikota bersama DPRK, MPU dan MAA turun langsung menempel seruan ini seperti di Jalan Samudera dan tempat umum lainnya.

“Kita turun langsung agar masyarakat lebih yakin dan dapat mengimplementasikan seruan ini,”ungkapnya.

Disinggung adanya pro-kontra terhadap kebijakan duduk mengangkang, orang nomor satu di Lhokseumawe mengungkapkan wajar-wajar saja karena yang tidak setuju kemugkinan belum memahami adat-istiadat dan budaya Aceh yang penuh nilai-nilai islami.

“Saya sangat optimis menjaga adat istiadat dan budaya islami,” ujarnya.

Karenanya, dia mengajak masyarakat khususnya Kota Lhokseumawe untuk senantiasa melestarikan serta mempertahankan adat-istiadat dan budaya Aceh.

Sebelumya, di beberapa titik di Kota Lhokseumawe seperti di depan Masjid Islamic Center, Taman Riyadhah, di depan Kantor Walikota, DPRK, Pendopo, dan Waduk Keliling, terpasang sejumlah spanduk yang isinya mendukung penuh kebijakan Walikota Lhokseumawe tentang larangan duduk mengangkang dan melaksanakan syariat Islam secara kaffah.

Spanduk ini dipasang beberapa LSM dan Ormas. Menurut informasi sedikitnya 30 spanduk terpasang sejak pagi sebelum Walikota menandatangani seruan tentang larangan duduk mengangkang. (kdn)

Ket.Gambar: Analisa/khaddin). Walikota Lhokseumawe, Suaidi Yahya dan Ketua DPRK Saifuddin Yunus, menempel seruan bersama tentang larangan duduk mengangkang bagi perempuan di Jalan Samudera Kota Lhokseumawe, Senin (7/1).

Sumber: http://www.depdagri.go.id/news/2013/01/08/walikota-tandatangani-larangan-mengangkang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: