Menangkap Garangan #3 (Tamat)


Kurang Lebih Seperti Ini saat Garangan Tertangkap Tangan

Kurang Lebih Seperti Ini saat Garangan Tertangkap Tangan

Mohon maaf, sobat semua. Dikarenakan kesibukan tugas kantor, tulisan ini terpaksa dibuat sekuel. Dan ini adalah bagian pamungkasnya. Bagian yang paling mendebarkan menurut saya. Setelah terjadi pergulatan batin, antara takut dan nekat, akhirnya cerita ini berakhir dengan bahagia. Happy ending gitu🙂

Sebagaimana dituliskan dalam bagian sebelumnya, skenario saya dalam menangkap si luwak adalah pegang erat ekornya, tekan tubuh dan kepala dari atas tong supaya tidak menggigit tangan kanan saya. Bismillah. Dengan segenap keberanian yang campur aduk dengan ketakutan, tangan kanan dan tangan kiri saya bergerak bersamaan. Hup, gubrak… Tangan kanan saya berhasil memegang ekor garangan dengan erat. Sedangkan tangan kiri saya menekan kardus dan tutup tandon dari atas hingga pecah.

Garangan bereaksi cepat. Ia ternyata berusaha meloloskan diri. Saya membayangkan seperti buronan yang sedang asyik tidur kemudian digrebek polisi. Jika dia tanpa persiapan senjata untuk melawan, maka pilihannya adalah meloloskan diri. Sama persis dengan garangan/ luwak yang sedang saya pegang ekornya. Ia berontak dengan sekuat tenaga. Ekornya yang berbulu membuat cengkeraman saya kendor (mrucut) beberapa senti. Dan di saat hampir bersamaan, badan dan kepalanya bisa melepaskan diri dari tekanan tangan kiri saya. Sesaat kepalanya nongol muncul dari tandon dan mulutnya yang bertaring tajam terbuka mengarah ke tangan kanan saya. Waduh!

Reflek tangan kanan saya berusaha menjauh dari ancaman gigitan garangan. Sekejap kemudian garangan sudah dalam posisi terangkat di udara dengan kepala di bawah, sedangkan ekornya saya tarik ke atas. Bergantung-gantung dengan mulut yang terbuka, hendak menyerang. Saya sungguh khawatir. Semuanya dalam hitungan detik, bahkan mungkin milidetik. Setiap tindakan harus diambil secara cepat dan tepat. Insting saya menginstruksikan: tangkap kepalanya!

Hup! Masih dengan berbungkus handuk, tangan kiri saya berhasil mencengkeram leher garangan. Tidak bisa saya bayangkan, seandainya tangkapan saya meleset. Jari-jari saya bisa jadi santapan empuk giginya yang runcing, alias berdarah-darah. Degup jantung saya masih kencang hingga garangan dalam kendali saya. Tangan kanan memegang ekornya, tangan kiri mencengkeram lehernya. Garangan hanya bisa menggeram, mendesis. Suara yang agak menyeramkan khas binatang yang merasa jiwanya terancam. Beruntung garangan tidak punya kuku-kuku jari yang tajam seperti kucing yang kalau meronta-ronta bisa mencakar kesana-kemari.

Dengan hati-hati saya bawa garangan ke luar arena pergulatan, sambil saya menata napas dan denyut jantung saya. Karena posisi garangan tertangkap dengan handuk, maka tanpa kesulitan yang berarti saya bungkuskan sekalian handuknya untuk membelit tubuh garangan. Set.. set.. garangan hanya terlihat kepalanya sekarang. Namun masih dengan leher yang saya cengkeram dan mulut yang terbuka serta mengeluarkan desisan. Sesaat kemudian saya minta tolong istri untuk membukakan pintu belakang.

Garangan saya bawa ke halaman depan rumah. Kalau-kalau kemudian ia bisa lepas, sudah tidak bisa mengacak-acak dapur belakang. Alhamdulillah akhirnya garangan bisa ditangkap tanpa ada kesulitan berarti. Senang campur heran. Sekarang pertanyaannya: Mau dikemanakan si garangan? Ingin sebenarnya memeliharanya karena anak-anak sangat senang lihat polahnya yang lucu saat naik turun rangka jemuran, maupun saat merambat tali tampar jemuran yang kemudian melompat. Tapi kasihan juga, mengingat ia pasti punya keluarga. Apalagi kalau keperosoknya itu karena saat dalam tugas mencari makan untuk menghidupi anak dan istrinya. Pasti sudah ditunggu-tunggu kepulangannya.

Mau diberikan orang? Mungkin bisa dijual ke pasar binatang atau justru malah jadi santapan. Wah, tambah kasihan. So, saya putuskan untuk melepaskannya lagi ke alam bebas. Saya bawa garangan ke tanah kosong bersemak-semak di seberang jalan. Dengan sekuat tenaga saya lemparkan handuk yang di dalamnya terdapat si garangan. Wush… Gludak.. Dan begitu menyentuh tanah, dengan cepat garangan menyusup ke dalam rimbunnya rumput dan alang-alang. Dalam hati saya berpesan, “Jangan kembali lagi, Rang. Hati-hati kalau berjalan dan mau memutuskan untuk menuruni tembok!”.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: