Kisah Inspirasi: Dikin


Nama panggilannya Dikin, sebagaimana tertulis samar-samar di rombong warna biru di depan SDN Medokan Ayu. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan dukun (karena hanya beda vokal). Nama lengkapnya saya kurang tahu. Mungkin Sodikin, mungkin pula Sidikin atau bahkan yang lain. Sodikin, dan Sidikin dalam bahasa Al Qur’an berarti orang yang benar.

Saya pertama kali kenal Dikin sekitar 6 tahun yang lalu, saat masih tinggal di perumahan Griya Pesona Asri. Usianya mungkin sudah seumuran anak SMA sekarang. Maklum, waktu itu perumahan GPA masih baru dibangun di wilayah Medokan Ayu, belum ada fasilitas tempat ibadah karena penghuninya masih segelintir orang. Sehingga untuk sholat berjamaah maghrib, isya dan shubuh saya harus menuju masjid/ musholla di kampung sekitar dengan mengendarai sepeda motor.

Seringkali saya melihat sosok Dikin yang tinggi besar menjadi makmum sholat-sholat fardhu yang saya ikuti. Kadang di shof pertama, kadang di shof kedua. Jarang saya menemuinya absen dari berjamaah. Sangat rajin untuk anak seusia dia, yang umumnya lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain atau keluyuran ke pusat kota.

Setelah beberapa hari saya bertemu dengan Dikin, saya baru sadar kalau Dikin bukan anak biasa. Dikin lebih sering diam dan tidak banyak bicara. Tatapan mata dan raut wajahnya datar. Nyaris tanpa ekspresi. Terkadang dia bisa tersenyum, tapi jarang sekali. Mungkin hanya dengan orang-orang yang sudah sangat dekat dengannya. Perkiraan saya, Dikin mengalami masalah dengan kecerdasan intelektual dan emosional.

Dikin tidak punya orang tua. Setidaknya itu yang saya simpulkan. Setiap kali ketemu dia, saya hanya melihat kakek dan neneknya. “Mbah Wagiran”, jawab sosok sepuh yang sudah putih semua rambutnya saat saya tanya namanya. Mbah Wagiran orangnya ramah, supel, murah senyum dan senang diajak bercerita. Sampai saat ini kami masih saling sapa jika berpapasan di jalan. Beliau perantauan dari Tulung Agung dan sebagian besar warga sekitarnya memang dari kota tersebut juga.

Tuhan Maha Adil. Dikin, selain dianugerahi kecerdasan spiritual, ia ternyata juga mampu membantu kakeknya menghidupi keluarga. Suatu hal yang sepertinya susah dimiliki oleh anak muda saat ini. Tiap pagi dan sore Dikin menggelar barang dagangan di pinggir jalan dekat musholla. Semuanya sayuran. Ada kangkung, tomat, kacang panjang dan terkadang juga membawa pepaya. Sayuran itu hasil panen sang Kakek dari mengolah sebidang tanah di seberang rumah yang entah itu milik siapa.

Sahabat, banyak orang tua jaman sekarang sangat bangga ketika anaknya bisa menghitung matematika yang sedemikian rumit dengan cepat. Tak sedikit juga yang bangga dengan putra putrinya yang sudah bisa konser musik di sana sini, menjadi juara di lomba ini dan itu. Tingkat lokal bahkan nasional. Namun, tak banyak orang tua yang bangga dengan anaknya yang bisa sholat wajib 5 waktu di masjid, yang bisa penuh puasa Ramadhan, yang gemar berinfak tiap hari, yang tiada hari tanpa menolong temannya, yang tak satu malam pun dilewatkan tanpa membaca Al Qur’an, dan seterusnya. Padahal investasi yang terbaik di dunia adalah anak-anak yang sholih dan sholihah, yang akan menjadi amal jariyah tiada putus hingga kiamat tiba.

Semoga kita bisa menjadi anak yang sholih/ah bagi kedua orang tua di rumah. Dan semoga pula kelak Alloh Menganugerahi kita putra putri yang sholih/ sholihah yang selalu mendoakan kebaikan kita dunia akherat. Allohuma amin…

2 Responses to Kisah Inspirasi: Dikin

  1. Rizal hakim - Alumni TF 2005 says:

    Nice post Pak Cahyo. semoga Alloh merahmati kita semua. Amin..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: