Kisah Inspirasi: Suami Istri dan Rusa


Sabtu kemarin saya beserta keluarga meluangkan waktu untuk rekreasi murah meriah di Kebun Bibit Surabaya. Kami berangkat sekitar jam 6 pagi dari rumah mengendarai sepeda motor. Rencananya, mampir ke pasar, beli bubur buat sarapannya Gaza dan Nadia juga beli kacang panjang untuk diberikan rusa-rusa yang ada disana dan tak lupa beli pisau dan tatakan kayu buat persiapan Idul Qurban esok hari.

Dari luar pagar, tampak beberapa site di kebun bibit sudah dipenuhi anak-anak dengan segala aktivitasnya. Ada yang berseragam Pramuka, ada pula yang berseragam olah raga. Dan memang, di tempat parkir dalam terlihat deretab sepeda mini yang tersusun rapi.

Setelah memarkir sepeda motor, kami langsung menuju area kandang rusa. Pengunjungnya masih sepi, tak sampai lima orang. Mungkin karena hari Sabtu dimana masih banyak orang tua yang masuk kerja, dan anak-anak pun masih masuk sekolah.

Tatapan mata saya langsung tertuju pada sepasang bapak ibu. Usianya sudah jauh dari dikatakan muda. Mungkin lima puluhan. Sang bapak sudah hampir semua rambutnya memutih. Mereka tampak bergembira memberi makan rusa dengan beberapa untai kacang panjang. Bahkan kalau saya tidak salah dengar, sang ibu sempat menyapa salah satu ekor rusa. Sambil duduk jongkok ia belai kepalanya. Sebegitu dekat hubungan. Mirip seorang ibu dengan anaknya sendiri. Sang bapak pun tampak mengamati dengan seksama dari sebelahnya.

Yang menarik, tak kelihatan satu pun anak kecil yang bersama mereka. Tak satu pun! Tidak anak, tidak pula cucu. Hanya mereka berdua. Pemandangan ini sangat aneh menurut saya. Sepasang bapak ibu hanya berdua menikmati pagi hari dengan memberi makan rusa-rusa di Kebun Bibit Surabaya. Apakah mereka tidak punya putra? Ataukah anak cucu sudah jauh semua? Pertanyaan-pertanyaan itu bergelayut di pikiran saya.

Sahabat, ada sebuah pesan yang coba saya tangkap dari fragmen tersebut. Mungkin sama dengan Anda. Ya, betapa dalamnya cinta dan kasih sayang orang tua. Masih sangat ekspresif di kala usia sudah begitu senja. Tak luntur di makan waktu. Sebaliknya, betapa pendek dan dangkal kasih sayang dan cinta anak kepada kedua orang tuanya. Setidaknya itu yang bisa kita rasakan saat ini.

Benarlah sebuah pepatah, “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepenggalan”. Semoga kita bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Dan semoga pula kelak kita Dianugerahi oleh Alloh swt anak-anak yang cinta kasih sayangnya tiada pupus dimakan usia. Amin…

“Ya Alloh, sayangilah kedua orang tua kami, sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kecil”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: