Osama bin Laden: Melawan Amerika


Oleh: John Barry dan Christopher Dickey

“Tamu kami sudah pergi menghilang,” bunyi pesan pada tanggal 13 Februari dari Taliban, fundamentalis Muslim yang berkuasa di Afghanistan. “Kami tidak menyuruh dia pergi; kami tidak tahu ke mana dia menghilang.”

Satu hal lagi yang menambah kemisteriusan kehidupan Osama bin Laden dengan berbagai atribut yang dia sandang sebagai Muslim yang taat dan salah satu keluarga terkaya Arab Saudi, seorang insinyur Sipil yang berbakat, agronomis, dan pahlawan perang yang pemberani. Di samping itu, dia adalah orang yang paling dibenci dan dicari oleh Amerika.

Di dalam dakwaan federal New York bulan November 1998, Bin Laden dengan para koleganya yang lain “baik dikenal atau tidak dikenal”, didakwa dengan tuduhan pemboman dua kedutaan besar Amerika di Nairobi dan Daressalam pada bulan Agustus 1998 –peristiwa yang menelan korban lebih dan 200 orang. Sebagai jawaban, dua minggu setelah pemboman terjadi, 80 rudal Tomahawk diluncurkan dari delapan kapal perang Amerika di Samudra Hindia untuk memberi pelajaran kepada Osama di Afghanistan dan sebuah pabrik farmasi yang dituduh sebagai tempat pembuatan senjata kimia di Sudan. Serangan ini merupakan serangan militer terbesar di dalam sejarah permusuhan individu versus negara adidaya. Namun, Bin Laden dapat selamat.

Konsekuensinya, di kota-kota metropolitan seantero dunia Islam beserta ratusan ribu pemuda Islam yang menaruh kebencian kepada negara-negara Barat yang ateis dan arogan kepada negara yang lemah serta tidak adil, Osama tumbuh menjadi figur dan legenda. Menurut Omar Bakri Muhammad –seorang pemimpin jaringan pergerakan Islam yang berbasis di London– “Osama telah menjadi simbol perlawanan bagi setiap Muslim di dunia.”

Namun, bagi Amerika dan sekutunya, Bin Laden adalah simbol yang agak berbeda: terorisme internasional. “Tidak ada sedikit pun keraguan tentang itu,” ucap Direktur CIA, George Tenet kepada komite Senat pada Maret 1999, “bahwa Osama bin Laden, sekutu dia di seluruh dunia dan simpatisannya sekarang sedang bergerak merencanakan penyerangan kepada kami.” Dalam pemburuan Osama sejak pemboman di Afrika terjadi, sekitar 80 orang Muslim militan sudah dibekuk dengan tuduhan punya hubungan dengan Bin Laden. Sungguh, ini merupakan jaringan operasi global. Pada bulan Januari, 7 warga berkebangsaan Afghanistan dengan paspor Italia dapat ditangkap di Malaysia, sementara sepasang suami istri berkebangsaan Mesir dan seorang Yordan dapat diberhentikan di perbatasan Uruguay dan Brasil.

Di penghujung Februari 1999, para pejabat Amerika dan Eropa memperkirakan bahwa Osama masih ngumpet di Afghanistan, mungkin bersembunyi di tempat yang jauh dari wilayah yang dikuasai Taliban. Akan tetapi, kisah operasi Bin Laden mengungkapkan kebiasaan bahwa sering sekali seseorang yang memburu akan diburu. Ada dua hal yang dapat mendorong mewabah dan berlipatgandanya terorisme: pertama, dengan pergolakan yang terus berlangsung di Dunia Islam modern; kedua, kebencian Muslim kepada mereka yang di Washington. Ini yang memotivasi Muslim untuk berinisiatif melakukan teror.

“Siapakah Bin Laden itu sebenarnya? Siapa yang telah menjadikan dia sebagai seorang pahlawan?” tanya Adel Abdel Ban, seorang pengacara di kota London yang mewakili Ayman Al-Zawahiri orang yang juga diburu Amerika dan dekat dengan Bin Laden. “Amerika sebenarnya yang telah menjadikan dia pahlawan.” Majalah Newsweek melakukan investigasi selama enam bulan secara mendetail.

Osama bin Laden dilahirkan pada pertengahan 1950-an-tepatnya tidak dari sebuah keluarga terpandang di Arab Saudi. Bapaknya, Muhammad bin Laden yang merupakan pendatang dari Yaman, lambat laun kemudian membangun perusahaan konstruksi terbesar di Arab Saudi. Sejak tahun 1950-an, Saudi mulai merangkak membangun negara modern-rumah sakit, sekolah, jalan raya –dikonstruksi dengan bangunan yang kukuh. Dan dengan dukungan keluarga kerajaan, kelompok Bin Laden meraksasa menjadi kaya dan kuat.

Ibu Osama merupakan istri terakhir dan termasuk yang kurang terlalu istimewa dari sekian istri Mohammed. Osama termasuk anak termuda dari sekitar lebih dari 50 anak –jaringan keluarga Bin Laden bukanlah kecil. Bapaknya, Mohammed, meninggal pada 1967; Osama dengan status yang tidak terlalu istimewa, pasrah kepada Allah. Kakaknya, Abdel Aziz, masih ingat masa kecil Osama yang berperawakan tinggi (sekarang tingginya hampir dua meter), kurus dan sangat taat beragama. Ada beberapa isu yang tidak benar (gosip) bahwa pada tahun 1970-an, sebagaimana layaknya keluarga Arab kaya, Osama pernah menjadi playboy di London dan Beirut. Akan tetapi, itu hampir dapat dipastikan sebagai sebuah kebohongan belaka. Dia bisa dikatakan tidak dapat berbicara bahasa Inggris dan begitu juga bahasa Perancis, kelihatannya dia memang tumbuh alim sejak kecil.

Keimanan Bin Laden semakin bersemi dan terpolesi saat dia duduk di bangku kuliah di Universitas King Abdul Aziz di Jeddah sekitar dua puluh tahun yang lalu. Universitas ini, dengan lingkungan yang berafiliasi pada pemikiran keislaman yang bebas, menjadi tempat persinggahan dua tokoh Arab yang kelak mempunyai andil besar di Afghanistan: Bin Laden dan guru kawakan yang banyak mempengaruhi dia, Syaikh Abdullah Azzam. Azzam, seorang Palestina yang berhasil mempersonifikasikan dua dunia –politik Arab dan agama– merupakan mantan orang kepercayaan Yasser Arafat, namun sangat kecewa dengan korupsi yang dilakukan pemimpin PLO ini. Islam, menurut dia, perlu dikembalikan ke akar-akarnya, kembali ke jihad menentang orang-orang kafir. Pada bulan Desember 1979, jauh sebelum peperangan PLO melawan Israel, medan laga jihad seperti itu ternyata terwujudkau tanpa terlalu diharapkan.

Waktu berputar, invasi Soviet atas Afghanistan merupakan satu dari episode yang mempunyai peranan signifikan dan memiliki sedikit kemiripan dengan peristiwa yang terjadi sebelum pecahnya Perang Dunia Kedua. Bagi Amerika, Afghanistan telah menghidupkan kembali ketakutan akan ancaman hegemoni Soviet, dan itu yang dapat mengatrol serta membukakan jalan kepresidenan Ronald Reagan. Akhirnya, peperangan tersebut dapat menguak segala kebusukan dan kebobrokan mitos kekuatan militer Soviet sampai ke akar-akarnya. Namun lebih dari itu, tanpa disengaja, Amerika telah membuat cambuk untuk menggulingkan musuh yang paling ditakutinya. Akhirnya administrasi Reagan harus mendukung perlawanan Muslim melawan Rusia. Kebijakan ketika itu langsung diimplementasikan tanpa harus memikirkan konsekuensi lebih jauh intervensi AS. “Itu merupakan perjuangan Islam melawan kejahatan,” ucap Robert Oaldey, pejabat anggota Dewan Keamanan Nasional (National Security Council) ketika itu. Dalam berbagai operasi propaganda, Washington selalu menyokong para pejuang yang berperang melawan Soviet. AS telah memberikan andil besar dalam mengasuh dan membesarkan mereka untuk menjadi pahlawan dan mendorong para pemuda Arab yang religius untuk memikul senjata melawan orang kafir.

Semua rencana berjalan sukses sesuai dengan yang diinginkan. Namun, ketika pasukan Soviet hengkang dari Afghanistan pada 1989, pejuang Islam yang sudah banyak berkorban menumpahkan darah dan bersenjata lengkap serta siap untuk dilepas akhirnya berkeliaran di mana-mana. Ibarat wabah penyakit yang pernah terjadi pada abad pertengahan di berbagai belahan dunia yang sangat sulit untuk ditanggulangi. Di antara para pejuang mujahidin yang terlatih di medan laga ada kelompok Arab Afghan –para kader teroris internasional yang sudah siap untuk bergerak membawa pesan kepada dunia. Dan dengan usainya perang di Afghanistan, Bin Laden telah siap untuk menjadi komandan dan pemimpin para pejuang alumnus “Universitas Afghanistan” ini .

Menurut satu versi cerita, Bin Laden datang ke Afghanistan tak lama setelah invasi Soviet terjadi, dan kembali ke Saudi untuk mengumpulkan dana demi perjuangan. (Dan itu mudah karena di kalaugan orang kaya Saudi ada keyakinan bahwa membantu jihad Afghan merupakan kewajiban.) Di pertengahan 1980-an –pada saat itu para intelijen Israel terus mengikuti perkembangan, kecakapan dan kepiawaian Bin Laden– Azzam dan Bin Laden berada di Peshawar, Pakistan, kota legal senjata tempat agen CIA, pejabat militer Pakistan, petinggi suku Afghan, dan para fanatik agama dan Teluk telah siap menyusun strategi dalam operasi perang. Para tentara infanteri Soviet yang masih belasan tahun dan tidak mengetahui persis apa gerangan tujuan mereka masuk ke Afghanistan harus berhadapan dengan para mujahidin.

Pada mulanya, Bin Laden hanya sebagai penanggung jawab logistik, mendanai dan membangun sekolah dan kemah-kemah pengungsi di Pakistan, dengan berbekalkan kontak keluarga dan keahuan bisnis bidang konstruksi. Reputasinya semakin tumbuh di tengah lingkungan yang serbaganas dan keras. Osama tumbuh menjadi figur yangjujur, pemurah, terhormat, dan berbakat. Kirakira pertengahan 1980-an, dia mulai membangun jalan-jalan dan membuat tempat-tempat persembunyian dalam berbagai penyerangan mujahidin.

Pada tahun 1984, Bin Laden memberikan kontribusi besar kepada organisasi yang didirikan oleh Azzam untuk mendukung perjuangan di Afghanistan. Organisasi itu dinamakan Maktab Al-Khadamat (MAK), atau kantor pelayanan, yang bergerak seperti badan koordinasi perekrutan dan bantuan sentral umat Islam seluruh dunia. Pada saat itu, dua kantor perwakilan MAK yang berkedudukan di kota Detroit dan Brooklyn benar-benar didukung dan digalakkan oleh administrasi Reagan. Namun, beberapa tahun kemudian, berdasarkan dakwaan tahun 1998, MAK dituduh identik dengan akar konspirasi terorisme dunia melawan semua kepentingan Amerika (MAK di kota Brooklyn juga pernah digunakan oleh Syaikh Omar Abdel Rahman dan mereka yang terlibat pemboman WTC, 1993.)

Pada pertengahan 1980-an, Bin Laden dan Amerika masih sama-sama bahu-membahu untuk memburu Rusia, dengan demikian semua fasilitas mudah didapat. Perlahan-lahan, Bin Laden kian tertarik untuk pindah profesi dari logistik menjadi tentara yang terjun langsung dalam kancah peperangan. Dia punya bakat perang yang tangguh. Bahkan menurut laporan Rusia, kepala Osama juga dihargai untuk diburu. Pasukan Bin Laden, menurut seorang Israel yang terus mengamati sepak terjangnya, “benar-benar pemberani.”

Setelah pasukan Soviet meninggalkan Afghanistan awal 1989, pasukan mujahidin dan sukarelawan Arab mulai merangkak maju ke kota Jalalabad dalam rangka gladi resik karena mereka belum terlalu banyak pengalaman dalam medan laga yang sebenarnya. Serangan dengan tujuan menguasai kota-kota besar dan memprakarsai kejatuhan pemerintahan Kabul yang pro-Moskow mulai dilancarkan. Kota ini memiliki benteng pertahanan yang sangat kuat. Namun, dengan didukung oleh Amerika dan pemimpin Pakistan yang menginginkan pemerintahan Afghanistan yang dapat mereka kontrol, mujahidin dapat maju menyerang dan mencincang mereka habis-habisan. Seperti peperangan yang digambarkan oleh kitab Injil –bahkan lebih sadis lagi– gelombang demi gelombang pasukan Afghan Arab dapat menundukkan mereka. Bin Laden, saat pasukannya ditugasi untuk menyerang pangkalau terbang, terluka oleh pecahan peluru meriam. Tidak lama setelah itu, guru dan komradnya, Abdullah Azzam, meninggal pada saat berjalan untuk shalat Jumat di Peshawar. Azzam gugur sebagai syahid dengan ledakan bom (namun dia tetap utuh) sedangkan tubuh dua anaknya hancur berkeping-keping.

Akhirnya, Bin Laden pulang kampung dengan perasaan kecewa karena merasa dikhianati oleh para veteran jihad dalam perang saudara yang terjadi setelah syahidnya sang mentor Azzam. Kembali ke Saudi, dia langsung bergabung dengan bisnis keluarga dan mungkin bisa dianggap sebagai kelangsungan maka, dia mendirikan organisasi kesejahteraan veteran Afghan, yang segera bergegas secara sukarela untuk pergi ke Bosnia, Chechnya, Somalia, dan Filipina –tempat para Muslim mengangkat senjata melawan orang-orang kafir. Bin Laden sedang mencari perkara.

Pada tahun 1990, Saddam Hussein memberi dia satu perkara. Setelah Irak berhasil menginvasi Kuwait dan mengancam Arab Saudi, Bin Laden menawarkan pihak kerajaan untuk mempertahankan bumi pertiwinya. Namun hal yang ditakutkannya malah terjadi. Keluarga kerajaan sebaliknya mengizinkan pasukan Amerika untuk mengemban tugas dan di sinilah mereka mengotori negara Al-Haramain (dua tempat suci: Makkah dan Madinah) ini dengan kegemaran pesta dan kaset-kaset Madona. Mulai saat ini, Bin Laden menjadi figur yang populer di kalaugan masyarakat Arab Saudi. Ketika oposisi dia atas kebijaksanaan untuk memasukkan Amerika diketahui, pemerintah menahannya di Jeddah. Pada 1991, dia meninggalkan Arab Saudi dan pada 1992 dia sudah berada di Khartoum, ibu kota Sudan. Lumayan cepat, begitu juga dengan kawan-kawan yang lain.

Kota Khartoum di awal tahun 1990-an tidak beda dengan kota Casablanca di tahun 1941. Intelijen berbagai negara –Amerika, Inggris, Israel, dan Mesir– memenuhi kota. Yang mereka inginkan hanyalah mengintai orang-orang Arab Afghan, Islamis radikal Mesir, dan pejuang Somalia. Paling tidak, Osama di mata Amerika mempunyai periode yang penting di Sudan. Dia mendarat di Khartoum sebagai protes terhadap Amerika, walaupun dulu dia pernah bahu-membahu dengan negeri Paman Sam di peperangan Afghanistan. Dia meninggalkan Sudan di musim semi tahun 1996, dan saat itu dia sudah diidentifikasi oleh Deplu Amerika sebagai “donatur kebanyakan aksi terorisme”. Apa sebenarnya yang terjadi?

Pada mulanya, Bin Laden muncul dengan konsentrasi pada pekerjaan yang penting untuk rakyat. Dia mulai membangun jalan dan kota Khartoum ke pelabuhan di Laut Merah. Dia juga bertani; seorang jurnalis, Jamal Khashogi, masih ingat Bin Laden yang sangat antusias memperbincangkan pentingnya tumbuhan yang dihasilkan oleh teknik genetika. Namun lambat laun, dia mulai merambah aspek lain. Banyak veteran Arab Afghan membanjiri Sudan untuk bergabung dengan dia. Dia pun banyak dipengaruhi oleh pemikkiran Dr. Hasan Turabi, intelektual brilian yang berada di belakang rezim kekuasaan di Khartoum. Dalam persepsi Hasan, hanya dengan dukungan Amerika “penguasa anti-Islam” dapat langgeng berkuasa.

Bin Laden hampir dapat dipastikan punya hubungan yang baik dengan kelompok radikal Mesir yang bermarkas di kota Khartoum –di antaranya Al-Jihad Al-Islami (sekarang pimpinannya, Ayman Al-Zawahiri, merupakan kaki tangan Osama). Melalui organisasi yang didanainya sendiri di London, Bin Laden tetap konsisten untuk menyerukan perubahan radikal di tanah airnya. Pada tahun 1994, pemerintah Saudi mencabut kewarganegaraannya dan memburunya sampai ke luar negeri. Dengan bantuan Amerika, Saudi dapat menekan pemerintah Khartoum untuk mengusir Osama. Musim semi 1996, Bin Laden telah siap melancarkan serangan kembali; namun kali ini bukan dari Khartoum, melainkan dari Afghanistan.

Sampai di sini, Bin Laden masih belum mempublikasikan permusuhan dengan Amerika; konsentrasinya masih tetap dalam lingkaran reformasi dan pembaruan di Dunia Islam. Pada tanggal 23 Agustus 1996, dengan pendeklarasian jihad, Bin Laden akhirnya harus melewati tapal batas. Dia menyerukan pemuda-pemuda Islam untuk membunuh semua penjajah Amerika di kerajaan Arab Saudi. “Dinding-dinding penindasan dan penghinaan,” bunyi fatwanya, “tidak dapat dihancurkan kecuali dengan hujanan peluru.” Pada Februari 1998, dia terus bergerak ke depan. Setelah melakukan pertemuan dengan para kelompok ekstremis, termasuk Al-Jihad Al-Islami, Bin Laden mengajak untuk menyerang semua kepentingan Amerika di mana pun berada. Dan pada Agustus, dua kedutaan Amerika meledak.

Bin Laden –barang bukti menunjukkan– adalah orang yang paling bertanggung jawab atas pemboman kedua kedutaan tersebut. Namun, penguasa Amerika kelihatannya ingin melakukan hal yang lebih dari itu: untuk mengatakan bahwa Osama Bin Ladenlah orang yang berada di balik setiap rentetan peristiwa kekejaman yang terjadi terhadap semua kepentingan Amerika. Dan peledakan WTC bulan Februari 1993, teroris berdarah dingin telah mendaratkan kakinya di daratan Paman Sam. Rentang waktunya semakin dipercepat. Musim gugur tahun 1993,18 tentara Amerika terbunuh dalam kontak senjata di Mogadishu, Somalia. Tahun 1995, 5 orang Amerika lagi tewas terkena ledakan bom di kota Riyadh, Arab Saudi. Tahun 1996, 19 tentara terbunuh akibat ledakan bom di barak kota Dhahran. Dan pada 1998 kedutaan besar AS juga harus menjadi sasaran pemboman.

Menurut kacamata Washington, semua kekejaman ini adalah dengan satu modus operandi yang terikat menjadi satu. Persekusi tahun 1998 menuduh Al-Qaeda sebagai organisasi induk yang langsung dipimpin Bin Laden. Al-Qaeda disebut sebagai organisasi teroris internasional dengan sel-sel kecil bernaung di bawahnya (seperti Al-Jihad Al-Islami). Dan badan ini yang harus dikecam untuk hampir semua aktivitas terorisme Islam modern melawan Amerika. Dengan kata lain, dakwaan itu pada dasarnya tidak mengatakan bahwa Osama yang menanam semua bom; tetapi menganggap bahwa Osama adalah pemimpin organisasi induk yang organisasi afiliasinya yang melaksanakan “pesan-pesannya.”

Mungkin itu benar, tetapi Mendagri Arab Saudi, Pangeran Nayef membantah bahwa Bin Laden bertanggungjawab atas kedua peledakan yang terjadi di Arab Saudi. (Secara faktual, pejabat senior Saudi memperkirakan bahwa Irak-lah yang bertanggungjawab atas pemboman di kota Riyadh untuk memberi pelajaran kepada Amerika.) Dakwaan bulan November menuduh Bin Laden sebagai orang yang melatih para pembunuh pasukan keamanan Amerika di Somalia, dan Bin Laden sendiri dengan sombong mengaku bahwa dia yang melatih. Mungkin itu benar, beberapa veteran Arab Afghan menyusup ke Somalia melalui Sudan. Akan tetapi, Robert Oakley, Dubes Amerika untuk Somalia, pada saat terjadinya malapetaka itu, benar-benar skeptis bahwa banyak kaum fundamentalis Islam berkeliaran di jalanan. “Kami sudah mencari mereka,” ucap Oakley, “tetapi kami tidak pernah mendapatkannya.”

Kalau Oakley dan Nayef sama-sama benar, implikasinya sangat sederhana. Sebelum dia dikeluarkan dari Sudan pada tahun 1996, Bin Laden hampir dapat dikatakan orang yang bertanggung jawab dalam pendanaan veteran Arab Afghan dalam menyemarakkan api peperangan di seluruh Dunia Islam. Dan dia sendiri yang telah membuat pemerintah kerajaan Saudi berang kepadanya-namun belumjelas apakah benar dia yang menyediakan dan mengarahkan semua atau mungkin sebagian besar serangan teroris atas kepentingan Amerika. Kolega Bin Laden menegaskan bahwa ajakan dan seruan Osama untuk melakukan jihad menentang hegemoni Amerika benar-benar merupakan stimulus tersendiri. Ada satu kemungkinan yang rasional bahwa popularitas Bin Laden sebagai panglima tertinggi teroris dunia membuat Washington harus mengutuk dan membekuknya.

Namun, ada pertanyaan yang harus kami cari jawabannya. Apakah Osama memang berbahaya dan menyepelekan Amerika? Apakah menuduh dia lebih dari yang dia perbuat tidak akan menimbulkan persoalan baru? Kalau memang benar, ada dua alasan untuk itu. Pertama, ini bukan sembarang teroris; ini Bin Laden, anggota keluarga yang punya hubungan istimewa dengan keluarga kerajaan Saudi. Banyak yang mengatakan bahwa beberapa anggota keluarga kerajaan yang berpengaruh orang-orang yang menghendaki kerajaan untuk kembali ke jalan Islam yang sebenarnya –mengakui bahwa Bin Laden merupakan pahlawan yang paling autentik bagi kawula muda Saudi. Coba bayangkan jika suatu hari dia pulang ke kampung halamannya dengan popularitas setinggi ini . Dia punya banyak sahabat yang berkedudukan kuat di masyarakat. Dan mungkin mereka adalah orang-orang yang punya andil dalam perjalanan roda kerajaan Arab Saudi yang menjadi benteng pertahanan terakhir kepentingan Amerika di Timur Tengah. Sangat lumrah kalau mereka akan kecewa bila saja Osama berhasil diringkus dan mendekam di tahanan Amerika; atau mati syahid.

Lebih penting lagi, kampanye Amerika melawan Bin Laden tidak mustahil akan berbalik menjadi penyulut perlawanan yang lebih sadis. Di Amerika, Bin Laden menjadi buronan. Di Dunia Islam, dia merupakan sosok yang lain; bersembunyi di pegunungan yang sangat terpencil. Osama bin Laden telah tertransformasi, demikian menurut Roland Jacquard, seorang Prancis yang ahli mengenai terorisme Islam, menjadi “sebuah legenda dan mitos.” Kesimpulannya: para pejabat Amerika dengan berbagai upaya penjaringan telah berusaha untuk menghabisi aliansi kelompok terorisme dengan cara menjadikan Bin Laden sebagai “Don Corleone of Terror”. Sementara di Dunia Islam sebaliknya, dia menjelma sebagai “Che Guevara” pada zamannya, yaitu icon resistensi terhadap hegemoni Amerika.

——————————————————————–
OSAMA BIN LADEN MELAWAN AMERIKA
Editor: Ahmad Dhumyathi Bashori MA.
Penerbit: Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124
Cetakan 1, Rajab 1421 /Oktober 2000
Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038

Sumber: http://media.isnet.org/etc/Osama-4Media/Simbol.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: