Terima Kasih, Ibu


Sebut saja dia Zahra. Anak paling besar di rumah meski bukan anak pertama, karena kedua kakaknya telah mengikuti suaminya. Selama ini dia menjadi tulang punggung keluarganya. Bukan karena ayahnya telah meninggal atau sakit, tetapi karena Allah SWT telah mengalirkan rezkinya lewat anak perempuannya. Meski terkadang sesekali mendapat rezki lebih, ayah Zahra pun tetap berbagi dengan keluarganya. Entah untuk bayar listrik yang kadang sampai nunggak 2 bulan, atau nombokin uang belanja yang diberikan Zahra ke Bundanya.

Setiap harinya Zahra yang mencukupi kehidupan keluarga baik urusan perut maupun pendidikan adik-adiknya. Terkadang juga membantu adik perempuannya yang telah menikah dan tinggal serumah dengan membeli susu anaknya, atau sekadar minyak telon dan minyak kayu putih untuk menghangatkan keponakannya. Sepertinya Zahra sudah ikhlas. Namun ikhlasnya Zahra tidak dibahas di sini. Itu urusan kanjeng Gusti dengan Zahra.

Suatu ketika Putri, adik Zahra paling kecil kelas 6 SD yang mau ulang tahun berceloteh.

“Mbak besok kalau aku ulang tahun aku minta uang ya..”, kata Putri.
“Berapa?” jawab Zahra.
“Lima puluh ribu aja. Aku mau njajakin temenku kok..”
“Insya Allah ya kalau mbak ada rezki tambahan lagi..”
“Insya Allah nya 100% ya..”
“Insya Allah”, jawab Zahra lagi.
“Halah minta sama mbak Zahra nek untuk yang kayak gini ki mesti ga dikasih. Mending mbak Mi. Kalau aku ulang tahun minta sepatu dibeliin. Lha kamu mbak..ga sayang sama aku..”

Zahra hanya tersenyum. Ibu yang di sebelah Zahra langsung memberi alasan membela Zahra.

“Tri.. Tri.. kamu koq ga bersyukur tho punya mbak Zahra. Setiap hari yang ngasih uang belanja ibu siapa? Buat makan kamu tuch sampai pipimu gembul.. yang nyanguni kamu itu siapa? Yang mbayar SPP mu itu siapa? Ya wajar nek uangnya mbakmu habis ga bisa ngasih uang buat njajakin temen-temenmu. Setiap hari tuch.. dihitung. Lha mbak Min cuman kalau kamu ulang tahun sama nek lebaran tok ngasihnya. Bersyukur kamu Tri besyukur.. nanti nek mbakmu dapat tambahan rezki kan kamu juga dikasih.”

“Ya.. ya” jawab Putri sambil mrengut.

Selepas itu Zahra menatap lekat-lekat adik bungsunya. Dalam hati Zahra berkata, Gusti.. Gusti.. paring ngono rezki ingkang halal, kathah lan barokah. Ikhlas itu seperti apa tho Gusti.

Selepas memandang lekat adiknya, Zahra menatap ibunya. Bu.. Bu engkau sepertinya tahu apa yang aku rasakan. Memandangmu sudah membuatku bersyukur telah engkau besarkan. Sudah berapa rupiah yang engkau keluarkan. Sudah berapa kasih yang telah engkau berikan. tapi kau tak minta dikembalikan. Lha aku, baru ngasih sak imprit saja sudah tak karuan rasanya. Bu..Bu.. maafkan aku yang belum bisa memberi terbaik untukmu. Hanya doa tulusku untukmu. Terima kasih ibu.

Zahra hanya bisa menelan ludah lalu tersenyum. Itu adalah salah satu cara menekan perasaannya. Lalu ia berdoa, ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO

“Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil.” Aamiin.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/terima-kasih-ibu/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: