Sense of Ramadhan


Sahabat, Ramadhan sudah sampai di penghujungnya. Tidak lebih dari 7 hari lagi ia akan meninggalkan kita. Mungkin ketemu lagi tahun depan, atau mungkin sebaliknya, inilah Ramadhan terakhir kita. Saya teringat beberapa mahasiswa di kampus kami yang dengan kehendak-Nya tidak sempat berjumpa Ramadhan tahun ini. Wafat di usia muda belia. Seakan-akan Allah SWT meningatkan kita semua bahwa mati tidak harus menunggu usia senja…

Sahabat yang Dirahmati Allah,
Kembali pada Ramadhan. Sungguh miris mengamati fenomena di sekitar kita. Di saat banyak orang mendapatkan hidayah di bulan Ramadhan, ternyata tidak sedikit pula yang “menyia-nyiakan” obral hidayah di bulan ini. Masih banyak anak muda yang lebih memilih mengisi waktu luangnya dengan main kartu, gitaran, nonton TV, main game, cangkrukan dari pada menghabiskan waktu untuk beribadah di masjid. Membaca Qur’an, menegakkan sholat, memperbanyak dzikir, menghadiri kajian maupun mencoba untuk introspeksi diri.

Sahabat muslim,
Orang tua pun kadang juga tidak memberikan contoh yang baik bagi keluarganya. Sang ayah, tahu klo ini bulan Ramadhan, masih juga menghabiskan waktu malamnya dengan asyik memancing ikan, jagongan di warung kopi dimana di saat yang sama senandung ayat-ayat suci mengalun bersahutan dari mushola ke mushola, dari masjid ke masjid. Sang ibu pun juga kurang pas. Menjelang Ramadhan berakhir sibuk “thawaf” di mall, di plasa, di pasar-pasar malam. Belanja ini itu untuk keperluan lebaran yang sebenarnya sudah bisa dicicil semenjak bulan-bulan sebelumnya.

Sahabat, maka jangan disalahkan klo akhirnya banyak anak kecil bikin gaduh di masjid. Lha wong sangat mungkin tidak didampingi dengan serius oleh bapak ibunya. Dan jangan heran klo di setiap bulan puasa pasti mainan yang bernama mercon beserta variannya itu laris manis bak kacang goreng. Entah berapa juta rupiah uang yang “terbakar” sia-sia karena hal itu. Andaikan itu diinfakkan, digunakan di jalan dakwah pastilah sungguh luar biasa!

Sahabat, semoga Alloh Melindungimu
Dengan tulisan ini saya hanya bermaksud mengajak diri sendiri dan sahabat sekalian untuk benar-benar serius di akhir Ramadhan ini. Sungguh-sungguh dalam beramal. Kita manfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin untuk taqarub/ mendekat kepada Alloh. Tilawah, dzikir, kajian, sholat, i’tikaf itu semua adalah sarana bisa digunakan. Mumpung saat ini adalah Ramadhan, bulan obral pahala, bulan obral ampunan. Hanya sekali dalam satu tahun! Ingatkah kita dengan dosa-dosa yang pernah dilakukan? Sekaranglah waktu yang paling pas untuk menebusnya. Dan juga karena malam-malam ke depan adalah malam 10 hari terakhir. Malam dimana terdapat malam seribu bulan, lailatul qodar. Mari sahabat, kita maksimalkan sisa waktu yang ada. Jangan sampai yang muncul adalah penyesalan yang pasti sudah terlambat. Mari paksa diri, tundukkan nafsu untuk meluangkan waktu guna mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Semoga Alloh Meringankan langkah kaki kita. Amin…

Renungan malam 24 Ramadhan 1431 H.

Note:
Ikuti I’tikaf akbar malam 27 pada hari Ahad, 5/9/2010 di masjid Al Falah depan Kebun Binatang Surabaya. Konsumsi makan sahur telah disediakan panitia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: