Ramadhan: Siang Puasa, Malam Pesta


Semoga bisa menjadi perenungan bersama bagi kita. Potret masyarakat umum (termasuk kita sendiri mungkin) yang belum mampu memaknai hakekat puasa yang sebenarnya. Semoga Alloh Membimbing kita ke jalan yang lurus. Ampuni kami ya Alloh. Amin…

[ Senin, 23 Agustus 2010 ]
Didik J. Rachbini: Paradoks Ramadan, Antara Praktik Fikih dan Ekonomi

ADA pertanyaan, mengapa pada Ramadan konsumsi justru naik? Padahal, pada siang selama bulan itu, umat Islam harus menahan diri dari (di antaranya) makan dan minum. Artinya, frekuensi dan jumlah makanan yang dikonsumsi semestinya berkurang. Tetapi, dalam kenyataan terjadi sebaliknya. Konsumsi justru meningkat. Peningkatan konsumsi lebih banyak menjelang dan beberapa hari sesudah Idul Fitri, hari raya untuk merayakan kemenangan menahan diri selama Ramadan.

Dengan tingkat konsumsi yang meningkat itu, hukum ekonomi berjalan: harga-harga kebutuhan pokok merangkak naik. Itu dikeluhkan ibu-ibu yang berbelanja di pasar. Mengapa kejadian tersebut selalu berulang setiap tahun tanpa ada pencegahan awal yang sigap dari pemerintah. Padahal, perilaku berulang itu sudah jamak diketahui konsumen maupun pedagang.

Konsumsi naik karena pada hakikatnya secara sosial dan ekonomi Ramadan merupakan perayaan keagamaan yang berulang. Satu di antara 12 bulan yang selalu dinantikan umat Islam. Yakni, menikmati saat berbuka, masa bersahur, yang ditingkahi berkumpul bersama seperti layaknya pesta. Di kota dan desa, berbuka bersama maupun sahur bersama merupakan kebanggaan kolektif yang bersifat kebersamaan sosial.

Kebersamaan sosial itu adalah kebutuhan sosial. Bahkan, bersifat mutlak bagi yang berstatus sosial tinggi di tingkat masing-masing. Itu merupakan tradisi lama, melembaga, dan sudah berjalan sekian generasi sehingga tidak mungkin diubah dalam sekejap.

Dari sisi keagamaan, puasa merupakan praktik menahan diri. Siang umat Islam sama sekali tidak boleh makan dan minum. Tetapi, dari sisi sosial, kegiatan malam sejak berbuka sampai sahur justru lebih hidup dengan tradisi kolektif berbuka bersama maupun sahur bersama (setidaknya di dalam keluarga). Dimensi sosial puasa itulah yang mendongkrak konsumsi dan merupakan suatu lembaga kebersamaan sosial.

Dari sisi ekonomi, puasa Ramadan dengan dimensi sosial seperti itu mendorong aktivitas konsumsi kolektif. Maka tidak aneh, konsumsi naik dan harga barang-barang pokok merangkak lebih tinggi. Itulah paradoks puasa Ramadan. Pada sisi fikih, agama menganjurkan umat menahan diri dari hawa nafsu, termasuk nafsu makan dan minum sejak terbit sampai terbenam matahari. Tetapi, aktivitas pada malam lebih semarak sehingga justru tingkat konsumsi masyarakat lebih banyak jika dibandingkan dengan masa normal.

Paradoks Ramadan adalah kontras antara praktik fikih dan praktik ekonomi. Praktik fikih adalah menahan makan dan minum pada siang, tetapi praktik konsumsi ekonomi berjalan khusus dan semarak pada malam. Jadi, tidak aneh ritual Ramadan bersanding erat dengan ritual kenaikan harga bahan pokok.

Dikutip dari : http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=151870

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: