Boediono: Berpolitik dengan Sebuah Pendekatan Kemanusiaan


Ketika nama Boediono dimunculkan secara resmi sebagai calon wakil presiden mendampingi calon presiden dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, penolakan pun segera berhamburan. Bahkan, penolakan itu juga datang dari partai politik yang mendukung pencalonan SBY.

Boediono dianggap ”tak berkeringat” dan bukan mewakili parpol. Ia juga dianggap bukan politisi sehingga akan membebani SBY ketika berhubungan dengan DPR. Namun, mantan Gubernur Bank Indonesia itu menyangkal jika dinilai bukan politisi.

”Waktu saya menjadi menteri kan juga politisi dari satu segi karena harus berdiskusi, berdialog, dan bernegosiasi dengan elemen politik serta masyarakat. Memang nanti lebih intens, pasti. Tetapi, saya tidak berangkat dari nol,” ujarnya kepada Kompas di rumah pribadinya di Jakarta, beberapa saat lalu.

Ia mengakui dirinya memang bukan politisi penuh. Bahkan, jika nanti terpilih sebagai wakil presiden, mendampingi SBY, pun ia lebih menjadi teknokrat. ”Namun, tentu saya juga akan lebih banyak menangani aspek politik. Saya yakin presiden akan memberikan pedoman,” paparnya.

Entitas yang baik

Terhadap berbagai penolakan pencalonannya, Boediono tidak tampak melakukan ”perlawanan” kecuali terhadap isu dirinya sebagai pendukung neoliberalisme. Tetapi, sesungguhnya ia juga tetap membangun silaturahim dengan politisi dan partai politik, termasuk yang memiliki wakil di DPR.

”Sebenarnya saya juga membangun jaringan ke politisi, tetapi kecil-kecilan. Secara informil, bukan secara sistematis (pada awalnya). Politik itu, menurut saya, merupakan soal human approach (pendekatan kemanusiaan) kecuali memang ada hal yang mendasar, seperti perbedaan ideologi yang harus dijembatani dengan ideologis lain,” katanya.

Mantan Menteri Koordinator Perekonomian itu memandang politik sebagai hal yang baik, termasuk kalau ada persoalan. Banyak persoalan politik yang bisa diselesaikan dengan human approach. ”Kita membangun komunikasi dengan saling percaya. Kalau kita bicara jujur, ia tidak merasa saya membicarakan yang lain di belakangnya. Ya, hal seperti itulah. Simpel saja,” katanya.

Boediono melanjutkan, ”Setiap hubungan manusia, kalau kita tidak pernah ngrasani (membicarakan kejelekan orang lain di belakang) orang, itu kunci untuk trust (percaya). Ada kejujuran untuk berbicara antara kita.”

Ia menambahkan, sepelik apa pun persoalan politik, hal itu dapat dikembalikan pada nilai dasar manusia. Baginya, manusia itu adalah entitas yang baik. ”Basicly human being is good. Hal ini mungkin naif dari segi politik. Tetapi, sampai sekarang dengan politik terbatas yang saya alami, cukup berjalan dengan baik,” ujar Boediono lagi.

Oleh karena itu, Boediono tak berkonfrontasi dengan siapa pun yang menolak atau tak sepaham dengan dirinya. Kesederhanaan, kesantunan, bahkan kenaifannya, melalui pendekatan kemanusiaan, saling percaya, kejujuran, dan keterbukaan, sampai hari ini mujarab untuk menyelesaikan perbedaan itu.

”Saya tak tahu apakah itu kekuatan atau bukan. Tetapi, saya sampai sekarang percaya, semua itu masih bisa berjalan dengan baik,” ujarnya lagi. (tat/tra)

Sumber: Kompas, Sabtu 20/6/2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: