Kisah si Merah dan si Putih


Jangan tersinggung dulu, jika saya menggunakan istilah “kurcaca moncong putih” dan “kurcaci PKS” dalam judul tulisan ini. Kontradiktif memang, tapi ini tidak dalam konteks merendahkan PKS, tentunya. Istilah kurcaca dan kurcaci ini saya pinjam dari syair lagu Bunga Trotoar karya Bang Iwan Fals. Kurcaca sebagai simbol kelompok elit, sedangkan kurcaci simbol kaum akar rumput. Jadi, judul itu memang sesuai dengan kisah yang ingin saya ceritakan ini. Ya, sebuah kisah nyata, yang sahih kebenarannya; kisah antara seorang elit di Partai PDI-Perjuangan dan sebuah keluarga kader atau simpatisan Partai Keadilan Sejahtera. Supaya lebih mudah saya sebut saja kedua tokoh dalam kisah ini Mister Kurcaca dan Sahabat Kurcaci.

Kisah bermula ketika, saya ditanyai seorang teman—sekaligus klien– yang juga seorang elit partai berwarna kebangsaan merah itu. “Wan, menurut kamu bagaimana caranya agar kader partaiku juga bisa punya militansi seperti PKS?” tanya Mister Kurcaca.

Oh ya, sebagai penulis (meski amatiran), saya memang harus bergaul dengan kalangan lintaspartai. Bagi saya, mereka semua sahabat. Yah, kecuali yang menggangap saya sebagai musuh.😀

“Wah, jika ingin jadi militan bisa saja. Tapi militansinya akan beda dengan kader PKS,” jawab saya.

“Oh ya, Mister: mengapa tiba-tiba bertanya tentang itu?” tanya saya lagi.

Mister Kurcaca pun bercerita kepada saya:
“Begini. Tempo lalu, aku sengaja melihat-lihat demonstrasi teman-teman dari PKS. Nah, pas bubaran, secara tidak sengaja aku melihat sebuah keluarga kader PKS berboncengan naik sepeda motor. Bapak, Ibu dan dua anak. Lengkap!

Tiba-tiba, motor itu berhenti. Si ibu (sahabat kurcaci), yang berjilbab, kemudian turun dari motor. Sambil menggendong anaknya, ia menyebarang ke tengah pembatas jalan. Kamu tahu, untuk apa? Hanya untuk menegakkan sebuah bendera PKS yang terjatuh.

Gila! Apa yang mendorong militansi semacam itu.

Penasaran, aku ikuti mereka. Hingga akhirnya sampai di sebuah toko swalayan kecil. Aku pun memarkir kendaraan di depan toko mini-swalayan itu, sambil menunggu mereka selesai berbelanja. Begitu keluar dari toko, aku sapa mereka: “Assalamu’alaikum”

Aku pun bercerita tentang peristiwa bendera jatuh tadi. Kamu tahu apa jawabannya?

“Motivasi saya surga, Pak!” jawab si Ibu.

Mister Kurcaca tak habis pikir: “Dengan tingkat militansi yang semacam itu, PKS pasti kuat sekali di dalam.”

Bagi saya, kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kedua pihak: PDI Perjuangan maupun PKS. Di mata saya, sebagai sebuah partai besar, PDI-P memang sudah saatnya membangun sebuah sistem kaderisasi berjenjang, lengkap dengan sistem meritrokasi jabatan yang tersistematis sehingga ada semacam iming-iming reward, yang bisa memotivasi setiap kader untuk menjadi militan. Tentu saja, iming-imingnya bukan surga, seperti ala kader PKS tadi.

Bagi PKS, militansi para kader akar rumput semacam itu hendaknya menjadi cermin bagi para elit, yang kini sudah menuai hasil perjuangan mereka: menjadi pejabat publik, apakah itu sebagai pejabat birokrasi (eksekutif) atau legislatif. Jangan cederai keikhlasan semacam itu.

Inget lho, keikhlasan mereka atas nama surga.

sumber:|
http://kalipaksi.wordpress.com/2009/03/30/kisah-kurcaca-moncong-putih-dan-kurcaci-pks/

3 Responses to Kisah si Merah dan si Putih

  1. haikal says:

    Pokoke Kita Suenengg..😛

  2. Rezza B. says:

    Mungkin bisa d bilang suatu kaderisasi dalam PKS sangatlah kuat dan mendalam…bisa d lihat saat ini bnyak skali partai2 besar yg ingin berkoalisi dan menjalin kerjasama dgn PKS…

    Ttapi sejauh ini yg saya lihat para kader dan simpatisan PKS hanyalah wanita2 berjilbab dan pria2 berkopyah ( atau bs d sebut org2 beragama islam )…

    Bukan maksud saya untuk membeda2kan agama ato berdebat masalah agama…ttapi saya sebagai org yg memeluk agama lain, apakah ada niatan untuk merangkul org2 yg beragama non islam ? cm itu saja yg masi menjadi pertanyaan saya sebagai org yg masi bau kencur dgn masalah politik

    • bluejundi says:

      semoga bisa menjawab🙂

      Kamis, 7 Februari 2008
      Seputar Isu Partai Terbuka dan Caleg Non Muslim

      BAYAN (PENJELASAN) PKS

      Seputar Isu Partai Terbuka dan Caleg Non Muslim

      Assalamu’alaikum wr wb,

      Bismillahirrahmanirrahim.

      Menanggapi isu di media massa dan di masyarakat sehubungan Mukernas PKS di Bali, maka PKS perlu memberikan BAYAN (PENJELASAN) sebagai berikut :

      1. Mengenai Slogan PKS.

      Slogan Resmi PKS sesuai keputusan Musyawarah Majelis Syuro PKS ke VII di Jakarta, dan dikuatkan kembali dalam Musyawarah Majelis Syuro PKS IX di Bali adalah: Bersih, Peduli dan Profesional.

      Bersih menegaskan aspek moral/kesalehan pribadi.

      Peduli merupakan aspek sosial, kesalehan sosial.

      Profesional adalah kesalehan profesi, memiliki kompetensi, pemikiran keterbukaan sehingga bermanfaat bagi posisi jabatan yang diamanahkan.

      2. Mengenai istilah “Terbuka”.

      Istilah “Terbuka” TIDAK PERNAH menjadi keputusan partai, baik oleh sidang-sidang Majelis Syuro, Dewan Pimpinan Tinggi Partai (DPTP) maupun dalam Khitob Qiyadi (arahan pimpinan).

      PKS tetap sebagai partai dakwah yang berazaskan Islam, memiliki moral Islam, dan syariat Islam wajib dengan konsisten dijalankan oleh setiap pemeluk agama Islam, terutama kader-kader PKS. Sebagaimana kami juga menginginkan setiap pemeluk agama lain juga taat menjalankan agama masing-masing, sebagai kontrol moral yang kuat terhadap pribadi seseorang. PKS berdakwah dengan mengemukakan sikap rahmatan lil’alamien.

      Adapun istilah terbuka sebagai usulan, wacana dan beberapa wawasan yang disampaikan oleh para kader yang berasal dari daerah minoritas muslim, akan dikaji dan didalami.

      3. Sehubungan dengan hal tersebut, maka seluruh jajaran struktur, pengurus dan kader supaya tidak lagi mewacanakan isu “partai terbuka” untuk menghindari madharat yang lebih besar daripada kemaslahatan yang diharapkan.

      3. Mengenai Caleg dan Pengurus Non Muslim

      Setiap warga negara dapat menjadi Caleg (calon legislatif) atau Pengurus PKS dengan memenuhi persyaratan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh ketentuan dan aturan resmi PKS.

      PKS sebagai partai Dakwah, sangat menghormati keberagaman, berbagai macam ras, suku dan agama, mengajak seluruh pihak dan komponen bangsa-untuk bersama-sama bersinergi untuk Pembangunan Bangsa ini.

      Demikianlah Penjelasan ini kami sampaikan, semoga dapat memberi pencerahan kepada seluruh kader dan simpatisan PKS. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.

      Billahittaufik wal hidayah.

      Wassalamu’alaikum wr wb

      Tertanda

      KH.DR. Surahman Hidayat
      Ketua DSP

      Ir.H. Tifatul Sembiring

      Presiden Partai

      Drs. Suharna Surapranata

      Ketua MPP

      sumber: http://keadilan-jepang.org/arsip.php?page=berita&id=853

      artikel lain: http://grms.multiply.com/journal/item/37

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: