Badminton (revive)


Senin malam kemarin saya pulang cukup larut. Jam di dinding kantor sudah menunjukkan pukul 10 lewat. Maklum kalo hari Senin memang kebagian tugas ngajar kelas ekstensi, mulai jam 18.30 sampai 20.30. Agendanya cuma kuiz dan pembagian tugas kelompok. Sebelumnya saya putarkan dua buah klip tentang usilnya anak-anak muda Jepang, dan sebuah klip tentang motivasi tentang tujuan hidup. Lumayan penting saya pikir buat mereka, mumpung masih semester-semester awal.

Sama dengan malam-malam setiap saya pulang agak larut. Di jalan-jalan kampung menuju rumah kontrakan saya dapati beberapa kelompok muda-muda dan bahkan pernah ibu-ibu yang semangat bermain bulu tangkis atau biasa disebut juga badminton. Sebuah pemandangan yang bulan-bulan sebelumnya atau bahkan tahun-tahun sebelumnya nggak pernah saya temui.

Demam badminton ternyata bukan hanya monopoli masyarakat kampung. Beberapa waktu yang lalu saya juga sempat ketemu dan ngobrol dengan bapak-bapak pengurus RT di perumahan. Ternyata sekitar sebulan yang lalu beliau-beliau sudah intens berolah raga badminton juga . Hanya saja ada bedanya. Kalo masyarakat kampung mainnya di jalan-jalan, maka warga perumahan biasanya nyewa lapangan. Maklum mungkin pas uang sedang ada di dompet. Dan yang lebih mengagetkan lagi ternyata sepekan yang lalu telah diresmikan lapangan badminton di ujung jalan buntu RT 1 hasil swadaya warga dan bantuan pihak pengembang. Hebat!

Sepertinya perhelatan piala Uber dan Thomas beberapa waktu lalu telah menghidupkan kembali semangat masyarakat untuk berolah raga badminton. Ditunjang dengan iklan-iklan serta siaran langsung di TV yang akhirnya semakin menyemarakkan olah raga ini. Jadi teringat waktu masih kecil dulu…

Di kampung kami dulu, selalu ada pertandingan badminton antar RT dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI. Ramai! Yang main umumnya anak-anak mudanya. Kebetulan lapangannya ada di halaman tetangga depan rumah. Dan nggak tanggung-tanggung, kalo sudah main bisa sampai larut malam karena lampu penerangan memang sudah disiapkan. Nggak besar hadiahnya, tapi yang penting adalah prestise jadi juara.

Sewaktu SMP dulu saya pengen ikut ekskul badminton di sekolah. Karena yang ndaftar banyak akhirnya harus diseleksi. Sebenarnya nggak susah tesnya. Cuma serve dua kali sekuat mungkin. Dan sepertinya waktu itu power saya memang nggak kuat, belum terlatih sehingga nggak diterima di ekskul badminton. Sejak itu jadi males main badminton. Pindah haluan ke olah raga bola voli. Hingga akhirnya keterusan sampai sekarang.

Kembali ke fenomena badminton, menurut saya cukup banyak nilai positif yang diakibatkan euforia olah raga yang satu ini. Pertama, mengolahragakan kembali masyarakat, khususnya para anak mudanya. Olah raga ini cukup murah. Berbekal hanya sepasang raket dan sebuah shutle kock, ajak seorang teman kemudian tinggal mencari tempat yang agak lapang dan aman dari gangguan kendaraan. Kedua, para pemuda punya aktifitas yang positif untuk mengisi waktu luangnya. Tidak hanya cangkrukan, rokokan, main kartu, dsb. Dan yang ketiga semoga bisa menyemangati para atlet dan pelatih badminton supaya bisa mengembalikan lagi supremasi Indonesia di jagad bulu tangkis dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: